Home » , , , , » Perang Hashtag #PrayforParis vs #PrayfortheWorld, Gerakan Anti Ini Anti Itu

Perang Hashtag #PrayforParis vs #PrayfortheWorld, Gerakan Anti Ini Anti Itu

Diceritakan oleh Gugun Ekalaya pada Monday, November 16, 2015 | 6:43 AM

Membaca perang hashtag antara yang #PrayForParis dengan yang #PrayForTheWorld seakan Paris dan the World itu dua negara berbeda. Lalu aku baca ulang sejarah perang saudara di Syria.

Hmm .... Percayalah, Teman. Lebih mudah mengungkapkan belasungkawa untuk Prancis daripada Syria. Bukan berarti saya menyetujui mana yang lebih baik... hatiku pun ultragalau membaca sepenggal demi sepenggal tahap terbentuknya konflik di Syria. Seandainya diungkapkan dalam hashtag #PrayForSyria, mungkin ia akan mengisi seluruh ruang huruf dalam buku harianku.

bagaimana media melakukan framing berita
Salah satu ilustrasi yang beredar di Twitter, mengkritik bagaimana media melakukan framing berita (dari: @Tag_a_twin)
Sukar menyamakan kedukaan untuk Prancis dengan Syria. Dan meski secara spiritual aku menghargai nyawa dimanapun dan siapapun, tapi kalau udah ngomingin perang, kurs nyawanya dipaksa beda.

Di Syria itu yang perang adalah warganya sendiri, yang pro pemerintah versus pro pemberontak. Dua pihak melakukan kebuasan yang sama karena memang udah ada bibit-bibit pertikaian dari awal (ada banyak grup di sana Syiah, Sunni, Salafi, Alawit, Kurdi yang nggak akur satu sama lain). Dalam satu grup anti pemerintah pun, mereka juga saling berseberangan kepentingan. Yang jadi korban siapa? Ya... tau sendiri, kan?

Makanya "pray" sudah nggak cukup. Makanya di sini saya tidak setuju ama anti ini-anti itu, kecuali anti permusuhan itu sendiri. Bagi saya, yang perlu diwaspadai adalah gerakan anti-antian yang kelak bisa bersemai menjadi bibit pertikaian. Dari deklarasi-deklarasi anti ini anti itu semacam inilah akar kekerasan dan pemaksaan bermula, karena ada mobilisasi massa. Beda halnya jika dilakukan dalam konteks diskusi yang sehat dan terarah. 


Kata bapak saya yang terus terngiang adalah, 
"Kalian itu nggak pernah merasakan penderitaan perang, jadi jangan sok-sokan ngundang perang."
Enough praying, do something. Mulailah tebar damai dari lingkaran terkecil.

Saya yang nggak suka K-Pop, nggak pernah teriak-terak anti K-Pop, apalagi bikin deklarasi anti K-Pop. Saya juga nggak melarang orang menyebarkan ajaran K-Pop selama mereka nggak maksa. Dan saya juga tidak berusaha membentuk pikiran saya sendiri agar melihat mereka seakan memaksa.

Haduh ... jadi kepingin ngopi nih ...
Jika menurut Anda bermanfaat, silakan berbagi tulisan ini ke teman Anda dengan tombol Google+, Twitter, atau Facebook di bawah ini.
Comments
0 Comments
0 Comments

Berikan Komentar

Post a Comment

Translate This Page into