Home » , , , , » Membela Pak Raden (Si Unyil, Idealisme Soal Bagaimana Menjadi Indonesia)

Membela Pak Raden (Si Unyil, Idealisme Soal Bagaimana Menjadi Indonesia)

Diceritakan oleh Gugun Ekalaya pada Tuesday, November 3, 2015 | 8:59 PM

Salah satu hal terindah yang diwariskan Orde Baru dipimpin Yang Mulia Presiden Suharto (cieee), adalah stabilitas tayangan TVRI. Ya, jaman dulu TVRI kalo nayangin acara pasti terjadwal dan terprogram. Bahkan malam harinya ada pembawa acara kasih woro-woro ke pemirsa tentang acara esok hari. Tayangan TVRI kalo sudah dijadwal gitu enggak pernah diubah seenaknya …kecuali kalo ada acara Laporan Khusus. Namun acara Laporan Khusus (ini acara documentary pemerintah gituh …) biasanya malam. Jadi tayangan film siang hari, kartun-kartun dan lagu-lagu aman. BTW … pembaca di sini masih ada yang sempat mengasup tayangan TVRI jadul nggak sih?

Nhaaa yang jawab Cuma Om-Om dan Bapak-bapak hehe. Jadi mohon maaf ya adek-adek yang lahir pasca 1990-an kalo kalian kurang nyambung dengan yang Kakak (halah :…) omongkan.

Mari kita naik mobil Delorean yang jadi mesin waktu di film Back To The Future. Kita menuju tahun 80-an … Whussss bledarrr!
Pak Raden (ilustrasi karya Den Yodha)

Jauh sebelum Upin dan Ipin, Doraemon, Naruto, One Piece dan lain-lain, anak-anak tahun 80-an punya ikon yang tak kalah pop. Dia adalah Si Unyil. Unyil punya teman yang jelas namanya bukan Inyil. Ada Ucrit, Usrok, Bun-Bun dan Meilan. Tetangga Unyil antara lain ada Pak Raden, ada Pak Ogah dan Pak Ableh, ada Bu Bariah. Unyil tinggal di desa yang bernama Sukamaju … yang walau suka maju, ternyata desa ini nggak juga maju-maju. Kalau udah maju tentunya nggak jadi desa lagi … jadi Kota Udahmaju.

Serial Si Unyil adalah idealisme (masa itu) soal bagaimana menjadi Indonesia beserta dilema karakter manusianya. Coba kita tengok sedikit dari karakter-karakter yang ada di dalam serial Si Unyil.

UNYIL

Dia adalah seorang anak SD, sopan, rajin. Dia adalah gambaran ideal anak Indonesia pada jamannya. Oiya, Unyil gak suka gadget … karena emang belum ada jaman itu. Unyil punya teman antara lain Ucrit, Usrok, Bun-Bun dan Meilan. Tentang Bun-Bun dan Meilan ini menarik. Karakter keturunan Tionghoa oleh Pak Suyadi tidak digambarkan secara klise. Keluarga Bun-Bun ama Meilan nggak buka toko. Jadi mereka kerjanya apa ya?

OGAH

Pak Ogah ini selalu duet ama Ableh. Baik Pak Ogah dan Ableh sama-sama pemalas, tukang minta duit kalau disuruh dan suka ngutang. Pak Ogah dan Ableh ini bokek melulu. Sehari-hari mereka cuman nongkrong di pos ronda. Untung nggak jadi anggota dewan ya.

PAK RADEN

Inilah karakter yang terus melekat pada Pak Suyadi. Pak Suyadi sendiri yang mengisi suaranya. Bahkan di pertemuan resmi ia berdandan ala Pak Raden. Kumis baplang ala Nietsche, pakai baju beskap Jawa, selalu pakai blangkon dan tak lupa kalau keluar bawa tongkat jalan. Pak Raden adalah keturunan feodal yang terus berusaha mempertahankan kewibawaannya. Rongrongan terhadap wibawa itu datangnya tak lain adalah dari anak-anak desa yang selalu mencuri buah mangga (ato jambu ya? Aku lupa…) di halaman rumahnya.

Semua karakter bikinan Pak Suyadi tadi adalah gabungan dari idealisme serta kegelisahan yang merongrongnya.

Pertama, Pak Suyadi ingin mendidik anak Indonesia agar seperti Si Unyil. Namun karakter Unyil yang diidamkan ini terus dirongrong oleh kecenderungan manusia Indonesia memilih jalan “Pak Ogah”. Maunya gampangan, gak inisiatif dan nongkrong aja. Lalu ada Pak Raden. Pak Raden ini harus terus berwibawa sementara mengamankan pohon mangganya yang terus dicolong anak-anak desa. Jadi Pak Raden ini selalu curiga dan cemas terus. 

Sebagai bangsa kita ini mungkin pingin kayak Si Unyil. Rajin, riang gembira, pintar dan nggak tua-tua (lhah). Malangnya beberapa mentalitas ala Pak Ogah masih ada. Nggak inisiatif dan hanya mau bayaran tinggi. Kita juga terlalu tegang buat mempertahankan kewibawaan nasionalisme, setegang Pak Raden mengamankan pohon mangga. Kita ingin dihormati (minimal oleh negara tetangga) tetapi etos kerja kita, inisiatif kita masih level Pak Ogah dan Ableh. Yaaa … agak tinggian dikit lah.
Kapan majunya ya?
Ya nunggu Pak Ogah dan Ableh rajin … atau nunggu Jokowi diganti Si Unyil (halah ngomongin politik lagi …)

Di TVRI Serial Unyil selalu tayang di hari Minggu. Cukup sekali seminggu namun Si Unyil populer di hati para anak-anak. Sosoknya menghiasi banyak produk merchandise dan makanan. Ada kaos bergambar Si Unyil (aku pernah punyaaaa…), ada Es Lilin bermerk Si Unyil, ada buku tulis, gambar di balon dan banyak lagi. Setelah tahun 90-an dimana kejayaan TVRI meredup, serial Unyil terus berusaha dihidupkan dengan menayangkannya kembali di stasiun TV swasta. Terakhir kali Si Unyil berubah format jadi semacam serial dokumenter berjudul Laptop Si Unyil (Cieee Unyil main gadget ….). Jadilah Si Unyil ikon karakter fiksi sepanjang masa di Indonesia. Wow berarti yang bikin Si Unyil kaya raya dong!

Kaya ndhiasmu kuwi!

Jangan bayangkan Pak Suyadi, pencipta Serial Si Unyil sesukses dan sekaya Todd McFarlane. Todd adalah pencipta karakter Spawn. Ia bikin komiknya, bikin merchandising, action figure dan lain-lain. Uang mengalir dari royalti dan lisensi produknya. Namun ya maklum aja sih, Todd hidup di negara yang sangat peduli soal kekayaan intelektual. Pak Suyadi hidup di negeri pembajak. You know? Sampeyan-sampeyan ngerti? Pak Suyadi tak bisa hidup makmur dari hak ciptanya atas Serial Si Unyil. You ngerti? Yang pegang hak cipta atas karyanya adalah PPFN (Perum Perusahaan Film Negara) .… negara. 

Negaraaaa …. negaraaaa …. maksudnya bakal susah menggugatnya gitu loh.

Jaman dulu Hak Cipta emang nggak sepenting sekarang sih. Toh rata-rata orang Indonesia meyakini sebuah quote keramat …. rejeki orang udah ada yang ngatur. So … jadi gimana nih soal rejeki untuk pencipta sebuah karya yang penting dalam sejarah kebudayaan populer di Indonesia ini?

Menurut koran yang pernah saya baca (sebut saja Kompas), semasa tuanya Pak Suyadi hidupnya nggak makmur, bahkan harus jual lukisan buat bertahan. Meski pernah kuliah animasi di Perancis, Pak Suyadi kurang berkesempatan merambah dunia itu. Bayangin jika industri animasi Indonesia tahun 80-an semaju Malaysia sekarang ini. Mungkin kita punya serial animasi dan kelak CGI ya …. Pak Suyadi juga mengidap penyakit encok mirip ama karakter yang ia bikin dan perankan. Ia memilih melajang, hidup dibantu asisten dan ditemani kucing-kucing. Nah, siapa yang bisa membela Pak Suyadi?

Nggak perlu bela Pak Suyadi. Beliau kemarin sudah berpulang. Yang bisa kita lakukan adalah membela jalan industri kreatif yang beliau pelopori.

Selamat berpulang, Pak Raden.
Jika menurut Anda bermanfaat, silakan berbagi tulisan ini ke teman Anda dengan tombol Google+, Twitter, atau Facebook di bawah ini.
Comments
0 Comments
0 Comments

Berikan Komentar

Post a Comment

Translate This Page into