Home » , » Musuh yang Berkepentingan dengan Konflik di tengah Sindrom Insecurity Umat (Muhasabah)

Musuh yang Berkepentingan dengan Konflik di tengah Sindrom Insecurity Umat (Muhasabah)

Diceritakan oleh Gugun Ekalaya pada Thursday, October 15, 2015 | 10:44 AM

Salah satu sindrom yang menghinggapi mayoritas umat Islam Indonesia adalah perasaan insecure. Insecure karena apa? Insecure bahwa eksistensinya merasa dirongrong. Meski mayoritas, sebagian umat Islam masih saja merasa terdholimi. Siapa gerangan yang mendholimi? Nah, agaknya kambing hitamnya bukan lagi Yahudi, namun bergeser ke kalo nggak Syi'ah ya kaum liberal atau Jokowi (hlaaaaa :D).

Barusan ini ada kasus sandal yang bagian bawahnya bermotif terambil dari ayat-ayat Qur'an. Aparat untungnya segera bertindak. kalo yang gini ini ya emang kurang ajar. bagi saya pribadi susah untuk tidak menduga ini sebagai kesengajaan. Dalam hal ini, saya agaknya seperasaan sama teman-teman yang garis kanan: Itu sebuah PENGHINAAN!!!!

Sandal Glacio kode G-2079 yang menggunakan kaligrafi surat Al Ikhlas sebagai motifnya.
Sandal Glacio kode G-2079 yang menggunakan kaligrafi surat Al Ikhlas sebagai motifnya.

Tapi yo wis lah. Aparat sudah bertindak dan toh Quran yang asli kan ada dalam pengejawantahan keseharian, dalam tingkah laku, dalam bergaul... (Oalah, Cak... gaweane nonton pilem saru wae kok kotbah ... Alah ben, kan sekali-kali yo mbok relijiyus lah...)

Meski begitu saya rasa tak perlu lah merasa insecure. Apakah keagungan agama akan jatuh hanya dengan dinista dengan cara dancukan gitu? Menurut saya kok enggak ya ....

Kita masih bersyukur, umat Islam masih bebas beribadah, membangun masjid (tanpa IMB?), membuat film dakwah, bahkan fanpage Jonru aja ramenya melebihi jamaah sholat subuh sedunia (wis tau ngitung po?) ....

Insecure membuat tindakan kita tidak bijak. Kita selalu berhalusinasi adanya musuh dari luar padahal yang menggerogoti agama adalah orang-orang yang perilakunya jauh dari ajaran agamanya. Kadang hanya karena merasa terdholimi, kitapun memaksakan diri menyokong pendapat-pendapat bigot. Karena ketika kehormatan merasa diinjak, rasionalitas dan kebijakan tak lagi penting.

Kenali Motif Musuh

Lantas emangnya apa nggak ada musuh dari luar itu?

Saya bukannya bilang nggak ada .... ADA JUGA.

Mereka adalah yang berkepentingan dengan konflik. Mereka memanfaatkan perongrong kewibawaan agama yang ada di dalam. Kalau suatu umat masih labil, gampang disulut, maka mereka tinggal memanfaatkan kondisi. Benturkan sana, benturkan sini.

Kalau ada gerakan anti-antian atau takfir-takfiran, itu bahan bakar yang bagus. Kebanyakan orang yang anti toh nggak paham mendalam apa yang mereka anti-kan. Misal anti-komunis tapi nggak paham bedanya komunis dan sosialis, atau nggak tahu bedanya Marxis sama Leninis. Sama juga yang anti-wahabi, kira-kira tahu nggak bedanya salafi, wahabi, khawarij, trus tahu nggak pokok-pokok keimanan menurut Sunni dan Syi'ah?....

Kemaren tu ada gereja dibakar ..., katanya bukan yang pertama kali ..., lalu teman-teman (ehm) liberal uhukkk ... bilang, "Yang garis kanan biasanya ogah-ogahan komen atau share berita beginian. Beda ama kasus Tolikara kemaren ... huuuuu."

Nah, jadi sekarang itu kalau ada musibah isinya jadi buat saling serang. Golonganmu begini begitu, bla bla bla, padahal yang punya kepentingan ngakakkkk, "Hahaha rasakno! Diadu domba malah semangat. Mampussss!"

Tak adakah satu ayat yang cukup penting untuk menganjurkan persaudaraan?

Saya lantas jadi teringat ketika saya masih sekolah di Xavier's School for Gifted Youngsters. Wali kelas saya berkata, "It is an historical fact; share the world has never been human's defining attribute."

Mbuh lah ....
Jika menurut Anda bermanfaat, silakan berbagi tulisan ini ke teman Anda dengan tombol Google+, Twitter, atau Facebook di bawah ini.
Comments
0 Comments
0 Comments

Berikan Komentar

Post a Comment

Translate This Page into