Home » , , » Lingkaran Setan Industri Kreatif Di Indonesia

Lingkaran Setan Industri Kreatif Di Indonesia

Diceritakan oleh Gugun Ekalaya pada Wednesday, October 7, 2015 | 6:56 AM

Sekalipun banyak orang sudah berhasil kaya raya di bisnis industri kreatif, status profesi "seniman" masihlah kere di mata masyarakat. Iya nggak sih? Ini berdasarkan pengamatan "gebyah uyah" (generalisir) dari yang saya temui sehari-hari aja. Kebanyakan orangtua emang melihat jadi seniman bukanlah opsi yang aman dan mapan. It's better to be pegawai, karyawan, PNS, polisi, dokter, pengusaha (kalau bapaknya sugih)...dan banyak lagi cita-cita "klasik" lain. 

Apakah memang jadi seniman nggak menjanjikan masa depan?

Nah...jawabnya bisa banyak juga.

Temen saya yang tukang nggambar mobilnya udah BMW, temen saya yang bikin komik pergi ke Singapur, Jerman.... temen saya yang nulis (duh agak susah nih nemu contoh yang udah kaya raya) hehe. Kesimpulannya mereka secara finansial nampak mapan. Hmmm gak tau juga sih aslinya...tapi lho ya... misalnya ngaku kere tapi punya mobil kan lebih mending ya ....

Masa depan industri kreatif (gambar: Gerd Leonhard)

BTW temen-temen yang merasa tersinggung dengan tulisan ini (njut ngerasa ...gek-gek aku?... Jangan-jangan saya?) ... don't be so flattered lah, Cah .... hehehe. Saya cuman ngasih gambaran bahwa "seniman" di masa sekarang kemungkinan-kemungkinannya lebih banyak. Nggak semengenaskan jaman dulu. Jaman dulu harus selevel Basuki Abdullah lah kalo mau kaya.

Sekalipun ada banyak kisah sukses bagaimana seorang menjadi seniman, jadi musisi kek, jadi filmmaker kek, jadi komikus kek...level kasta cita-cita seniman masih jauh di bawah peringkat cita-cita klasik yang lain. Mengapa bisa begitu? nha mungkin karena semua hal tentang seni (jual seni, pasar seni, kebutuhan seni, menjadi seniman dll.) ber"jungkirwalik gulung-gemulung" saling mempengaruhi satu sama lain.

Talking about negara kita ...

Seni adalah hal yang relatif kecil dihargai. 

Pembajakan tinggi karena minimnya kesadaran akan nilai dari seni. Misalnya ya masih banyak orang yang mengira kalau memakai foto secara komersil itu bisa asal comot, musik asal comot dan misal kalo tahu ada disain harganya muahalll bakal bengong, "Whaaaat?!!! Mosok coretan mung ngono wae iso semono larangeeeee?" Karena dipikir bikin seni itu nggak ngeluarin biaya blasss jadi mereka hanya menilainya secara wujud fisik.

Seni dibutuhkan dalam hidup orang-orang, tapi mereka tidak peduli bahwa yang seniman membikinnya juga butuh hidup. 

Umum sekali kalo kita mengajukan harga sebuah karya seni masih diitung-itung secara fisik. banyak yang nggak nyadar bahwa seni nggak tercipta secara otomatis. Ada jerih payah dan perenungan. Mereka cuman lihat bahwa seniman kebanyakan kegiatannya nganggur. Yo misale saya ini ... banyak tidur siang. Mereka nggak paham bahwa ide yang saya pikirkan menyita ruang lebih banyak daripada otak-otak mereka yang simplistik.

Infrastruktur, sistem dan semua penyokong industri kreatif masih minim. 

Sudah diupayakan sih iya namun gapnya tinggi banget dengan banyaknya potensi. Misalnya di daerah, kalo bikin film muternya di mana? Mekanisme mana yang bisa membuat seniman non sekolahan bisa mengakses industri? Dewan Kesenian ada fungsinya nggak buat kesejahteraan seniman daerah (tanpa dipaksa mengusung jargon-jargon penguasa)?

Semua hal tadi menjadi lingkaran setan. Karena seni nggak dihargai, maka jarang orang berani menjadi seniman. Kalau toh berkesenian adalah panggilan hidup, ketiadaan uang adalah panggilan mati. Nha meski sudah berencana jadi seniman, terus emang siapa yang butuh? Maksudnya kebutuhan yang disadari lho ya ... Ndak ada kebutuhan gimana ada yang tertarik untuk bikin penawaran? Kalaupun kebutuhan itu bisa diciptakan, namun gimana penghargaannya? Wis mumet lahhhh

Saya pribadi emoh mengaku seniman....ntar kamu bully pula...
Jika menurut Anda bermanfaat, silakan berbagi tulisan ini ke teman Anda dengan tombol Google+, Twitter, atau Facebook di bawah ini.
Comments
0 Comments
0 Comments

Berikan Komentar

Post a Comment

Translate This Page into