Home » , , » Ketika Takut Tak Menemukan Alasan Nalar (Refleksi 30 September)

Ketika Takut Tak Menemukan Alasan Nalar (Refleksi 30 September)

Diceritakan oleh Gugun Arief pada Wednesday, September 30, 2015 | 7:04 PM

Selalu saya ingat semasa kecil, masih di era Eyang pujaanmu Bapak Suharto (cieee)... tiap malam 30 september saya selalu ketakutan. Semua TV memutar film horror inspiratif berjudul "Ge Telungpuluh Es Pe-Ka-i". Saya biasanya susah tidur sampai subuh. Entah kenapa ... filmnya bisa begitu horror.

Sekarang adalah kesekian kali peristiwa tahun '65 diingat dengan berbagai cara. Ada yang mensyukuri (nyukurin PKI mati) dan juga yang mendendam (karena jadi korban). Bahkan anak-anak yang masa kecilnya nggak tau sinetron ACI ikut-ikutan kena brainwash. Bagi kalian yang masih bertengkar soal wacana meminta maaf pada korban peristiwa G30S ... teruskanlah. (grind)


Bendera Setengah Tiang untuk Pak Salim Kancil
Emang hari apa sih kalian bisa rukun? Hari Valentine kalian bertengkar, tahun baru bertengkar, Lebaran kalian bertengkar, Natalan kalian bertengkar....

Mari kita refleksikan bahwa peristiwa '65 itu terjadi di era kini. Imajinasikan hehehe.... Alkisah... kaum takfiri yang dipimpin oleh ... hmmm .... sebut aja misalnya Letkol Ronju Tingging mengadakan "pembersihan". Semua yang tak sehaluan dengan status fesbuk beliyow bakal dikafirkan. Yang kafir akan diciduk. Ndilalah yang diciduk sangat ultra-masif banyaknya. Mereka adalah orang-orang yang tertuduh. Misalnya mengkritik Arab Saudi langsung dituduh menghina Islam, mengritik Wahabi langsung dituduh Syiah. Mereka kemudian tanpa proses pengadilan menjadi korban pencidukan. Hanya karena tuduhan.

Apa tahun '65 nggak begitu?

Menurut kesaksian bapak saya ...ya. banyak yang salah sasaran. Tahun itu, jika ada kawanmu benci sama kamu, tinggal sebar desas-desus kamu PKI, habislah kamu. Dan lebih dahsyat lagi, pemerintah orba menjadikan cap itu semacam dosa turunan. Jadi kalo ada cap keluarga bau Ex-tapol, tamat riwayatmu. Dan yang jadi tertuduh itu jumlahnya tak sekadar puluhan....

Lha emang apa PKI nggak jahat?

Mungkin juga sama. Dan saya emang gak bela PKI-nya kok... Saya hanya membela kewarasan akal dan nurani, dimana yang jadi korban malah orang-orang yang tak bersalah. Kepada yang tak bersalah itu saya bersimpati. Mereka bisa jadi paman-pamanmu, mbah-mbahmu yang saat itu begitu ndeso sehingga mudah dimanipulasi elit politik.

Adapun kepada anggota PKI tulen yang kena karma kekerasan atas ulah mereka... ya sudah itu mekanisme alamiah lingkaran kekerasan. Sebagai partai terbesar saat itu PKI emang pas jumawa-jumawanya. Penyakit mayoritas kali ya?...

Kalo bapak dulu cerita ada gerakan kekerasan sporadis bernama "PKI malam". Konon beberapa geng simpatisan PKI akan berburu pemuda non-komunis buat dibantai. Masih kata bapak, mereka juga mengintimidasi orang yang mau sholat subuh ke mesjid. Kalo ada orang nasionalis atau agamis (macam Masyumi-nya bapak saya) bakal jadi bahan bullying. Nge-bully-nya pake clurit loh, Om. Makanya bapak sampe trauma.

Terus apakah akhir-akhir ini ada pertanda komunisme mau bangkit lagi?

Saya kok cenderung nggak percaya? Kenapa? Seorang komunis sejati pastinya akan "terbakar" lihat benda-benda indah ciptaan kapitalis macam android, apps dan medsos hehehe. Mereka bagai akan menjadi Drakula kena tanda salib atau bawang putih.

Saya malah cemas pada perilaku derasionalisasi orang-orang. Ketakutan akan komunisme dan semangat takfiri bisa jadi malah akan dimanfaatkan para pemilik kepentingan.

fear-ignorance-hate

Apa-apa salah komunis, apa-apa salah Syi'ah, apa-apa salah Yahudi... itu contoh derasionalisasi. Ketika hati sudah benci, apapun bisa dipakai untuk menjustifikasi perilaku. Ketika takut tak menemukan alasan nalar, kekerasan menjadi katarsis (in negative way).

Oh iya...hati saya juga masih gusar dengan terjadinya kasus di Selo Awar-Awar Lumajang. Kita lihat nanti ... apakah advokasi kepada masyarakat anti keserakahan industri nanti juga bakal dicap komunis.

Saya menduga pembantaian tahun '65 itu juga menyebabkan kemunduran bangsa kita saat ini. Karena bisa jadi beberapa korban salah sasaran jaman itu adalah para guru, cendikia, pelajar serta seniman yang sedianya hendak digariskan Gusti Allah untuk mencerahkan bangsa. Apa daya... mereka keburu dituduh dan terbabat ketidaknalaran zaman. Mereka tertuduh hanya karena ada yang benci, ada yang nggak mainstream ... ingatlah. Berawal dari tuduhan.

So guys ... sudahkah anda dituduh hari ini?

Selamat sore :)
Mari pasang bendera setengah tiang untuk Pak Salim Kancil.
Jika menurut Anda bermanfaat, silakan berbagi tulisan ini ke teman Anda dengan tombol Google+, Twitter, atau Facebook di bawah ini.
Comments
0 Comments
0 Comments

Berikan Komentar

Post a Comment

Translate This Page into