Home » , , , , » Pendidikan Sejarah (Sejarah sebagai Kitab Suci dan Keris Sakti)

Pendidikan Sejarah (Sejarah sebagai Kitab Suci dan Keris Sakti)

Diceritakan oleh Gugun Ekalaya pada Saturday, September 23, 2017 | 7:00 PM

Setiap ada sebaran (share) artikel di medsos, tak ada yang lebih menarik perhatian saya selain baca komen. Dalam komen-komen saya bisa temukan informasi baru, sudut pandang baru, kelucuan, kebegoan maupun campur aduk semuanya. Kadang saya terhibur namun sering juga saya malah merasa galau. Saya galau terhadap kualitas intelektual dan literasi orang-orang (yang terwakili di medsos). Nggak tau ya kalo aslinya di real life gimana. Apa orang-orang tu aslinya se-"wagu" kayak tampilan mereka di medsos?

Dari membaca komen-komen di medsos soal sejarah (ya nggak cuma sejarah 65 aja loh), kegelisahan saya awalnya hanya pada satu hal...cara mikir kebanyakan orang.

Mikir!
Mikir!

Kayaknya nggak bisa sesederhana gitu. Kegelisahan saya terhubung dengan satu hal yang kompleks banget. Ini adalah soal kualitas pendidikan negara ini. Ini bukan kelalaian satu dua rezim penguasa. Kayaknya ini sudah terlalu lama menjadi kebiasaan. Kira-kira seberapa serius para pakar menyusun materi pendidikan dasar? Beliau-beliau itu saat nyusun materi pendidikan buat kita-kita jaman kecil, bener-bener dilandasi niat mencerdaskan bangsa atau buat memenuhi kewajiban saja? Saya nggak mencibir nyinyir nyengir loh... cuman nanya loh, Bapak.


Selama ini cara kita belajar sejarah sejak SD adalah mempercayai tulisan dan kata-kata (orang). Cara gini untuk mengawali belajar sejarah tak bisa dibilang salah juga sih. Karena basis dari sejarah kan ndengerin cerita dulu. Ya nggak sih, Kak?


Tapi kayaknya sampai SMA, pendidikan sejarah adalah soal mendengarkan cerita melulu. Tak ada ilmu pengantar "cara mendengar cerita". Walhasil, dari kids of yesterday evening hingga Om-om jaman now (hahah) memandang sejarah sebagai sebuah kebenaran yang fixed. Kita tidak dilatih untuk memperbarui kacamata jika ada data baru, dan juga tidak dilatih mengantisipasi bahwa mungkin kelak ada data yang lebih baru lagi. Padahal itulah fondasi science, yang baru akan merevisi yang lama.


Sejarah bukanlah serupa kitab suci. Kitab suci tak akan berubah kata-katanya, hanya tafsirnya yang mungkin berganti. Sedangkan sejarah, jangankan tafsir, materinya aja bisa ganti kalau ada data baru yang lebih tervalidasi.

Repotnya sejarah selain science juga adalah alat yang sangat ampuh untuk kekuasaan. Karena itu tafsir sejarah, wajar sekali, dipegang penguasa. Baik penguasa legal politik maupun penguasa wacana publik. Sejarah itu adalah semacam keris sakti yang diperebutkan dunia persilatan. "Barangsiapa memegangnya, ia akan menguasai dunia persilatan".

Balik maning nang topik....
Jadi gimana sejarah sebaiknya diajarkan?
Gimana kalo kita udah asyik sama satu versi, lalu ada versi terbaru yang bikin kita nggak nyaman? Are we educated to deal with that?
Jika menurut Anda bermanfaat, silakan berbagi tulisan ini ke teman Anda dengan tombol Google+, Twitter, atau Facebook di bawah ini.
Comments
0 Comments
0 Comments

Berikan Komentar

Post a Comment

Translate This Page into