Home » , , , » Melestarikan Dendam (Masih Seputar Kubu-Kubuan PKI)

Melestarikan Dendam (Masih Seputar Kubu-Kubuan PKI)

Diceritakan oleh Gugun Ekalaya pada Sunday, September 24, 2017 | 9:07 PM

Besok saya mulai puasa lagi update status pulitik hehehe...mungkin selama 40 harian atau seterusnya kalau saya terlalu bahagia. Ini yang terakhir untuk episode ini soal pulitik. Mumpung masih september, Guys.

Jadi ini yang saya temukan dari membaca, berdiskusi dan membandingkan suara-suara dua kubu soal tragedi 65. Saya menyederhanakan dua suara itu ke dalam 2 kubu. (sesuai kata temen saya, kalo dua kubu ini yang satu cuma ngurusin pra 65, yang satunya pasca 65. pada kagak bisa move on)

KUBU pra-'65

Kubu ini saya lihat banyak didominasi kaum agamis. Ini adalah kubu yang mendendam karena konon PKI membunuh BANYAK kyai. Banyak ini ukurannya berapa, saya belum dapat datanya. Saya pribadi hanya mendapat cerita (yang kayaknya sinkron dengan cerita di beberapa daerah) memang ada korban dari ofensifnya PKI.

Penyerangan simpatisan PKI ke kumpulan PII di Kanigoro ini salah satu peristiwa yang paling membekas di ingatan.

Ada istilah "PKI malam" kalo kata bapak saya. Konon mereka ini beroperasi secara berkelompok pada malam hari untuk mempersekusi korban atau sasaran. Sasarannya pejabat kaya, aparat dan ataun kyai (yang dianggap bagian dari "setan desa"). Pernah juga ada korban dari militer. Pelakunya para pemuda simpatisan PKI. Kejadiannya di daerah Blitar.


Berhubung PKI sedang jaya-jayanya, arogan-arogannya maka susah untuk melawan mereka. Lha wong jumlahnya besar. Mereka juga ofensif secara terang-terangan. Jadi kubu pra 65 cenderung memandang bahwa inilah api dalam sekam itu. Arogansi merekalah yang kelak akan dibayar dengan harga darah.

Berapa jumlah korban PKI ini? Saya belum dapat datanya.

Sebagian suara dari kubu ini cenderung kuatir akan kebangkitan komunis. Biasanya kalau dalam pembahasan soal korban tragedi 65, mereka akan fokus pada pra 65, dengan bilang bahwa PKI kejam karena bunuh kyai. Meski kita ngobrolin soal korban salah sasaran yang terjadi pasca 65, mereka tetap bilang PKI itu kejam karena bunuh kyai.

Lha iya emang kejam. Saya pun mengutuk orang yang membunuh kyai. Tapi kan kita lagi bicara korban salah sasaran...eh malah dianggap pro komunis. Piye to Pak?

KUBU pasca-'65

Ini adalah kubu yang mempermasalahkan terjadinya pembantaian massal pasca 65. Bagi saya ada naifnya juga kubu ini kalau cuma bilang PKI korban keadaan.

Saya sepakat bahwa banyak orang tak bersalah jadi korban. Jadi dulu itu dari aparat ada edaran berupa daftar para komunis. Ini bukan sembarang daftar. Siapa yang masuk daftar itu nggak bakal ada jaminan hidup. (anda perlu juga menyimak tulisan saya soal Kyai Samsuddin Sang Oskar Schindler dari Binangun deh)

Jangan kira yang masuk daftar itu hanya beneran PKI tulen yang aktif di parpol. Misal kamu musisi kebetulan pernah diundang di hajatannya onderbouw PKI aja kamu bisa masuk daftar loh. Atau kamu petani lugu yang karena janji-janji kuminis biar dapet beras aja bisa masuk daftar juga.
"Kamu PKI?"
"Sanes, Pak...kulo BTI"
"Cydukkk!"

Dan saya cenderung sepakat dengan pendapat yang mengatakan korbannya banyak dan salah sasaran.
Data dari orba aja mengklaim sekian ribu jiwa. Ribu bukan sedikit lho ya Om.

Yang saya jadi gregetan sih, kubu ini hanya blaming all to TNI (terutama AD). Lha kalo ndak ada api dalam sekam kan ya nggak bisa rakyat bahu membahu membantai kaum sendiri to ya...
Setahu saya di akar rumput, kebanyakan masyarakat lah pelakunya. Bahkan yang ngeri...kalo kamu dendam ama seseorang, tinggal kamu selipin namanya masuk di list. Nggak ada jaminan nama-nama itu dicek ulang. Kawan dan lawan pada masa itu nggak jelas. Bahkan keturunan mereka nanti juga akan dipersulit hidupnya. Seakan ada keyakinan kalau anak PKi ya bakal jadi PKI. Semasa orde baru, semua itu tampak wajar.
---------
Kesimpulan saya:
Betapa melelahkan dan nggak ada habisnya berdebat mana yang salah. Wis kadung akeh korban matek, Om...tragedi ini arep diulangi meneh ta?
Saya juga bersama anda yang muak ketika lagu lama ini diputer berulang-ulang. Isu kebangkitan komunis dan tuntutan keadilan.
Makanya wajar Gus Dur mengusulkan rekonsiliasi. Bara dendam ini tak sehat buat dipiara.
Kalo kita bilang bahwa korban tak bersalah pasca 65 perlu dibela, masak to itu berarti pro PKI?
Kalo kita bilang bahwa PKI bikin gara-gara dengan arogansinya pra 65, masak to itu berarti pro pembantaian?
Can we be a just...human?
Lagian gua mah bocah kelairan wolungpuluhan je...wis kagak ngrasakno taun 60 hehehe.
saya menghimbau....mari angkatan 80, 90 dan milenial bersatu membahagiakan bangsa. Bangsa yang bahagia tak akan jatuh dalam komunisme. Aku percaya itu :p
Okay. Sekian curahan kagalauan saya :)

Untuk mengisi dan mensyukuri terbebasnya negara ini dari komunisme, kelak saya akan mengisi status FB saya dengan review beberapa produk kapitalisme kegemaran kita semua.
Nantikan!
Go to hell nekolim...and you too kuminis hipokrit ngaihahahaah
Jika menurut Anda bermanfaat, silakan berbagi tulisan ini ke teman Anda dengan tombol Google+, Twitter, atau Facebook di bawah ini.
Comments
0 Comments
0 Comments

Berikan Komentar

Post a Comment

Translate This Page into