Home » , , » Hantu Komunisme Menyambut September Ceria

Hantu Komunisme Menyambut September Ceria

Diceritakan oleh Gugun Ekalaya pada Monday, September 18, 2017 | 8:14 AM

Komunisme sebagai ideologi sudah jadi fosil. Ia sudah telak dihajar oleh kapitalisme yang jauh lebih cerdas, adaptable dan tidak terlalu suka gembar-gembor. Nggak ada lho demo menggembar-gemborkan kapitalisme. Mix capitalism with religious bigotry, it's unbeatable :)  Dan kalo komunis sebagai sebuah spirit, itu sih cita-cita yang umum di banyak ideologi.

Apa to yang dimaui komunisme itu? Yang dimaui komunis sebenarnya tak lain adalah sebuah utopia masyarakat sempurna. Masyarakat di mana nggak ada kelas elite yang ongkang-ongkang menghisap "darah" kelas lainnya dalam kehidupan sosial ekonomi. Kurang lebih gitu.

Hantu komunisme

Sayangnya sejarah membuktikan utopia itu tak pernah terwujud. Yang ada malah muncul elitis yang memperkosa ideologi komunisme untuk menjadi alat kekuasaan.

Lu mau bilang Cina dan Rusia adalah contoh komunis yang sukses?

Walah Broooo bacalah soal reformasi yang dibikin Deng Xiaoping maupun Perestroika-Glassnost di Soviet. Itu yang kelak memberi jalan buat bisnis raksasa macam Ali Baba-nya Jack Ma dan Timur Bekmambetov bisa nyutradarain film di Hollywood.

Lha kalo fosil kenapa kok komunisme jadi kayak hantu?

Ya karena propaganda dari counter ideologinya. Kau bisa lihat nggak cuma di pelajaran sejarah namun juga di seni; film, sastra dan lain-lain. Komunisme itu iblis. Di Indonesia, itu tentu tak lepas dari jasa film legendaris "Pengkhianatan G30S/PKI"-nya Arifin C. Noer.

Emang ideologi mana sih yang bisa bersih dari "darah sejarah"? Agama saja tidak. Beratus-ratus tahun sebelum komunisme lahir, agama dilibatkan dalam pertarungan politik. Masih dekat dengan era geger komunis di Indonesia, kalian masih ingat ada pemberontakan DI/TII?

Bisa nggak kau bedain antara agama sebagai "din" jalan menuju Ilahi dengan agama sebagai alat politik praktis?

Alah wis ra usah debat ngafir-ngafirke aku karo ngomunis-ngomuniske aku! Mosok aku juga masih harus ungkit-ungkit sejarah bapakku yang anggota Masjumi (mirip Dulawi kakeknya Dawuk dalam novel keren Om Mahfud Ikhwan itu) nyaris jadi korban antek PKI?

Terus apa kita biarin kalo gek-gek jebul tenanan komunisme bangkit lagi?
Wis to Bro...percayalah padaku.
Komunisme itu kayak monster anaerob. Kena oksigen demokrasi langsung modar. Kayak vampir kena srengenge. Gimana tidak? Kapitalisme terbukti lebih uenaaaaakkkk hahaha

Lha yang gembar-gembor pro komunisme itu emang nggak lahir dari nikmatnya kapitalisme? Nggak pake hape? Nggak internetan?

Atau kita perlu bikin kapitalisme gaya baru? Kapitomunisme? Praktik kapitalis, semangat komunis? hahaha

Dan jangan suudzon lah, Bro. Orang-orang yang ngumpul berdiskusi sejarah itu tak selalu mau mbangkitin komunisme kok. Ndak mungkin to ya, lha wong komunisme itu monster anaerob. Komunisme itu maunya sok gagah membalik sejarah, tapi di hadapan naluri mendasar manusia yang ingin makmur (bahkan dengan jalan apapun)...ia lemah.

Kalopun ada...kalo ada lho ya...yang sampe ngefans bawa-bawa bendera palu arit, saya pikir itu cuma sok-sokan aja. Di mana-mana yang namanya fans emang ngeselin. Bahkan teknologi sablon buat bikin tuh bendera paling-paling ya produk dari kapitalisme. Ini beda lho ama kasus kaos cenderamata dari Vietnam.

Yang namanya diskusi filsafat dan sejarah, saya pikir hanyalah suatu upaya peduli pada korban "kesalahan sejarah". Kalo mau jernih membaca, banyak orang jadi korban tak tahu menahu atas nama pemberantasan komunis. Itu pernah terjadi di republik ini dalam skala yang masif dan mengerikan. Bau busuknya masih disimpan dalam labirin-labirin kecemasan massal.
Tragedi komunis di Indonesia adalah luka busuk yang bikin nggak nyaman. Namun alih-alih disimpen dan bakal bikin penyakit di masa depan, lha enaknya kan dibuka dikit buat diobati. (bukanya juga nggak perlu banyak-banyak "makblak" gitu, karena bau busuknya itu lho yang masih ngeri dan traumatik). Pelan-pelan aja. Ditinjau lagi secara jernih. Akui kita semua pernah salah.

Buat kamu-kamu yang muda...iya kamuuu...
Mbok yao moco sejarah sing mutu lah, Bro. Baca dengan semangat dialektika (halah opo meneh kuwi?)

Bacalah dengan ikhlas. Jangan sampai semangatmu menghalangi bangkitnya komunisme, malah menjelmakan dirimu menjadi sekejam yang pernah para komunis politis lakukan.

Komunis itu anti perbedaan dan anti versi kebenaran lain lho, Bro. Lu mbok yao jangan melu-melu gitu.

Salam september, bulannya Vina Panduwinata.

O september ceriaaaaa milik kitaaaaa...berduaaaa ahaaaaaa.

(ditulis pada pagi hari sembari menimang sebuah produk kapitalisme, Seiko 7s26)
Jika menurut Anda bermanfaat, silakan berbagi tulisan ini ke teman Anda dengan tombol Google+, Twitter, atau Facebook di bawah ini.
Comments
0 Comments
0 Comments

Berikan Komentar

Post a Comment

Translate This Page into