Home » , , » Mengapa Orang Jadi Agnostik, Atheis, dan Free Thinker

Mengapa Orang Jadi Agnostik, Atheis, dan Free Thinker

Diceritakan oleh Gugun Ekalaya pada Monday, May 22, 2017 | 5:20 PM

Keyakinan... baik itu berupa kepercayaan terhadap agama ataupun ideologi tertentu adalah salah satu kebutuhan mental manusia.

Pada awalnya manusia hidup di alam dan masyarakat yang begitu keras. Berlaku hukum rimba dan masing-maisng berlindung kepada klan terdekatnya. Ilmu pengetahuan belum lahir dan belum ada standar moral universal. Apa yang berlaku di satu klan tak sama dengan yang berlaku di klan lain.

Semakin masyarakat tertata, konsep universal soal moral dan kebajikan mulai terbentuk. Seiring dengan itu, teknologi yang digunakan semakin maju. Agama-agama primitif yang mengorbankan manusia agar alam atau dewa-dewa tidak marah, mulai berevolusi. Agama makin peduli sama manusia dan masyarakat. Ketika petir dan bencana tak lagi dianggap merupakan amarah dewa, sedangkan agama tak menjelaskannya secara gamblang, maka manusia mulai berfilsafat; apa gerangan hakikat dari alam dan kehidupan ini?

Bertrand Russel menjelaskan apa itu agnostik
Pencarian para guru berpikir sejak jaman Socrates hingga Michel Foucault, melahirkan "kelancangan-kelancangan" baru. Mereka mulai menggugat agama dan semua doktrin. Sebagai orang yang mau main aman, yakni beragama karena warisan (lhoh Adek gak tau, makanya kakak kasih tau...) maka mungkin kita tak terlalu pusing memikirkan banyaknya persoalan filsafat pelik yang belum terjawab tuntas. Udah ada yang mikirin, yakni para filosof-filosof tenar. Jadi mikir itu seakan "fardhu kifayah" lah hehehe

Tapi tetep aja ada yang masih gelisah dan akhirnya mencoba berpikir. Menalar maksudnya. Orang-orang ini mengalami sebuah hal yang saya namain "kegalauan eksistensial".

Berapa banyak sih orang yang sempat dan mau kritis terhadap apa yang mereka warisi? Tak banyak. Menalar itu suatu kaidah yang ribet. Belum lagi "ancaman sosial". Paling ringan di bully ato direcokin temen yang rajin ke gereja ato masjid.

Mengenai agama, di kalangan Islam ada banyak pertanyaan krusial yang jarang orang berani bertanya secara terbuka. Orang yang cuma terdidik agama secara literer cuma bisa jawab normatif, pakai dalil dengan banyak logical fallacy. Padahal sejarah pemikiran Islam mengenal kisah Ibnu Rusyd yang berseberangan dengan Al Ghazali. Mengakibatkan Ibnu Rusyd tersingkir ke Eropa. Konon kalah massa. Percikan kegalauan Ibnu Rusyd lah yang memantik api revolusi peradaban Barat. Sementara Al Ghazali, yang juga ahli filsafat, seakan meninggalkan jauh para fansnya yang mengira kaidah mikir itu gak penting. Kagak ada dalilnya... katanya...

So... ada orang-orang yang macam Adek (siapa tu namanya?) yang gelisah soal warisan agama ini. Gejala umum yang dialami semua pencari. Ketika semua pertanyaan cuma ditanggapi dengan dalil dan ancaman, keraguan besar menjadi ketakpercayaan. Yang paling enteng seseorang jadi beragama secara moderat, paling berat jadi agnostik atau malah atheis.

Atheis

Saya pikir banyak yang menyederhanakan atheis adalah sekadar gak percaya Tuhan (dan dianggap membenci Tuhan). Ada juga yang atheis cuman gaya-gayaan. Keatheisannya mungkin, sebagaimana kebanyakan theis, tanpa melalui proses menalar yang runut. Ketika ditelusuri logikanya, bisa jadi sama kacaunya dengan para theis yang membabibuta.

Varian atheisme menurut saya:

-Atheis mutlak: tak percaya adanya kekuatan ilahiah. Kehidupan adalah probabilitas acak tanpa agen ilahiah. Semua adalah kebetulan.
-Atheis konseptual: menolak penyematan kuasa ilahi (utamanya personal) dalam setiap fenomena, namun percaya bahwa kehidupan bukanlah probabilitas acak. Mereka hanya tak setuju menyebut ketentuan kejadian itu adalah dari Tuhan. Konon Einstein itu pemikirannya deket sama yang ini. Percaya bahwa alam itu terorganisir lewat cara tertentu, tetapi tidak sebagaimana diimani oleh penganut ketuhanan konvensional. Mungkin Tuhan dalam pandangan kaum ini adalah "hukum alamiah" itu sendiri.

Agnostik

Agnostik beda lagi. Agnostik tak mau mengambil kesimpulan soal Tuhan karena pembuktian soal Tuhan tidak bisa dilakukan dengan berbagai cara apapun. Bagaimana bisa menguji Tuhan yang tak terbatas sementara manusia status eksistensianya adalah terbatas?

Ada pula istilah Non-Theis. Ini beda lagi. Non-theisme mengambil sikap tidak bicara apapun soal Tuhan karena manusia tak punya kuasa. Jadi hanya fokus pada manusia dan alam.

Nah, rata-rata kaum literer agamis menyamaratakan semuanya. Gak bakalan nyambung.

Free Thinker

Selama seseorang masih mencari, bergalau-galau ria, biasanya dia akan menjadi "free thinker", pemikir gratisan...eh salah...pemikir bebas. Free thinker adalah pemikir yang tak terikat dogma dan dalil. Ia berpikiran bahwa setiap kebenaran musti diuji. Dan bagi anda yang sempat belajar filsafat, pasti semesta tak sesederhana logika buku propaganda kreasionisme. Logika gampangan biasanya yang dipakai adalah "God in the gap". Jadi setiap ketiadaan alasan atau info akan diisi dengan kata Tuhan. Misal, "kenapa ada kepunahan spesies tertentu? Karena Tuhan yang berkehendak."

Apakah menjadi freethinker berbahaya? (saya pernah dapat pertanyaan dari seorang ibu yang putranya ada gejala galau eksistensial)

Mikir berbahaya bagi iman? YA!

Mikir pake kaidah nalar dan skeptis akan mengguncang banyak keyakinan mapan. Makanya mikir yang kayak gini gak semua orang kuat atau mau. Iman dan science itu beda epistemologi. Yang satu berdasarkan dogma keyakinan, yang satunya musti lewat skeptis dan pengujian-pengujian nalar.

Akan tetapi tanpa adanya orang yang berani menalar, ilmu pengetahuan tak akan semaju sekarang.
Beberapa orang pasti beralasan bahwa agama lah yang mendorong manusia berpikir, banyak ilmuwan jaman kejayaan perabadan Islam adalah juga ahli agama.

Ya itu benar. Tapi jaman itu ilmu pengetahuan baru meletakkan pondasi, belum menyusun bangunannya seutuh dan sekompleks sekarang. Fisika Newtonian yang kebenarannya dipegang berabad-abad aja harus menyingkir sejenak ketika mulai mbahas level quantum loh.

Akan ada satu batas dimana agama, yang awalnya menjadi kebenaran tak tergugat, akan dipertanyakan. Ini adalah level paling berat untuk seorang pemula freethinker. Seorang free thinker musti jujur pada nalarnya sendiri. Mengaku bingung jika ada hal yang membingungkan. Tidak bisa berpura-pura iman hanya karena takut masuk neraka. Di masa ini kalo dia gak jadi atheis ya biasanya agnostik.

Di tahap ini, ada yang lebih suka memendam kegelisahannya di kamar. Jadi banyak baca buku, mulai malas menjalankan ritual, kalo cewek ya copot jilbab hehehe. Ada pula yang lebih opened. Makin suka dateng ke diskusi filsafat, makin suka mendebat, suka membully temen-temen yang masih beragama dll.

Menjadi apapun itu (atheis, agnostik, freethinker dll.)b adalah sebuah proses mental, intelektual dan bisa juga spiritual. Mereka adalah yang tak terima dengan "warisan".

Warisan berupa keyakinan nggak sama dengan warisan harta benda lho ya...

Benda masih bisa dijaga, dijual, digunakan. Tapi keyakinan adalah hantu batiniah yang bagi orang kritis akan menggerogoti kayak kanker. Kalo saya pribadi dulu gini..."Gimana kalo saya sampe mati duluan dengan memeluk agama atau menyembah Tuhan yang salah?" Kedengaran lucu? Saya nyaris gila saat itu (umur masih 20an ciehhh). Saya depresi, nggak ada yang paham. Tiap malam saya menangis sendirian, insomnia, psikosomatis, anxiety disorder. Kalo inget sekarang aja masih berlinang air mata saya. Konsultasi ke yang paham agama eeeh malah dikasih dalil...wooo jianc...eh gak jadi hehehe

Tetapi menjadi seperti itu adalah salah satu tahap yang dilalui seorang freethinker. Ada sih yang bablas atheis ato agnostik, tapi ada juga yang "kembali" beragama. Bahkan dalam beberapa hal menjalani ritual. Tapi biasanya alergi jika ada orang mabok dalil mendekat. maklumin aja.

Akan tetapi bagi yang "kembali", pasti ada jejak perjalanannya. Ia menjadi lebih berpikiran terbuka atau meluas, tasamuh (toleran), sabar. gak gampang merasa jadi korban, gak dikit-dikit merasa terdhalimi, ternistakan agamanya, nggak insecure atau baperan. Kalo ada yang katanya pernah atheis tapi masih baperan beragama ya mungkin dulunya atheismenya buat keren-kerenan, malas bernalar atau cuma "atheis fashion".

Bagi anda yang ber-Tuhan, tentu percaya bahwa apapun yang kita lakukan dan yakini dengan sadar akan dimintai pertanggungjawaban. Saya pribadi percaya Tuhan gak akan nanya di luar kapasitas kita. Orang yang tulus percaya bahwa Tuhan itu kayak centeng (suka mentungin yang gak patuh), insyaallah Tuhan gak akan menyodorkan tuntutan dengan kaidah nalar. Kalopun semasa hidup nyembah Tuhan pakai simbol patung, saya percaya Tuhan akan menanyai sebatas kapasitas nalarnya. Ngapain kok kamu nyembah Tuhan pake action figure?

So bagi yang bacaannya lebih nyeleneh macem Marx's Das Kapital, Nietsche, Heidegger dll. ya mungkin forum pertanggungjawabannya kayak sidang skripsi. Tuhan mungkin akan nanya..."Epistemologinya gimana, bro?"

Bagi yang berstatus ulama pun akan juga ditanya sesuai kapasitas kewajiban akhlaknya. Mungkin Tuhan nanya, "Bib, kenapa kamu nggak segera pulang waktu disuruh... ...
....isteri beliin nasi goreng?"

Gimanapun sejarah pencarian batiniah kita (entah yang galau eksistensial maupun yang tetap nyaman dengan warisan)..bagi semuanya tetaplah ada "kebenaran" umum yang acceptable for everyone. Jangan menyakiti selama kau tak mau disakiti, perlakukan orang sebagaimana kau ingin diperlakukan.

Dalam bahasa Al Qur'annya... eh ini bukan dalil lho:


وَيْلٌ لِلْمُطَفِّفِينَ
الَّذِينَ إِذَا اكْتَالُوا عَلَى النَّاسِ يَسْتَوْفُونَ
وَإِذَا كَالُوهُمْ أَوْ وَزَنُوهُمْ يُخْسِرُونَ
====

"Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang,
(yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi,
dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi."

(Surat 83. Al Muthaffifiin ( Orang yang curang ))

Intinya tetep ada tanggungjawab sebagai manusia yang "beres" yakni bikin dunia tetep asyik ditempati bersama.

Nha, kurang lebih begitulah. Gimana? Adek gak tau? Makanya kakak kas...HAKDZIGGGGGH!!!
Jika menurut Anda bermanfaat, silakan berbagi tulisan ini ke teman Anda dengan tombol Google+, Twitter, atau Facebook di bawah ini.
Comments
0 Comments
0 Comments

Berikan Komentar

Post a Comment

Translate This Page into