Home » , , , , » Kenapa Ada Umat Islam Intoleran dan Ngamukan? (Bagian 1)

Kenapa Ada Umat Islam Intoleran dan Ngamukan? (Bagian 1)

Diceritakan oleh Gugun Ekalaya pada Sunday, December 25, 2016 | 2:08 AM

Buat teman-teman yang non-muslim,

Tahukah anda bahwa pada suatu masa orang-orang Islam-lah yang memegang ilmu pengetahuan dunia? Tahukah anda banyak penemuan penting saat ini sebenarnya telah melewati sejarah ilmuwan-ilmuwan Islam di masa lampau?

Katakanlah saja misalnya robot, kamera, rumah sakit, alat bedah dan bahkan spaghetti? Sekilas mendengarnya mungkin anda kira hal ini cuma cocoklogi atau klaim-klaim yang maksa. But this is true. Cobalah googling soal sejarah kebudayaan atau ilmu pengetahuan di era Abassiyah dan Umayyah. Eropa tak akan mengalami renaissance jika tak menerjemahkan buku-buku sains dari dunia Arab.

Renaissance Eropa berawal dari terjemahan besar-besaran ilmu pengetahuan dunia Islam. Ironisnya itu terjadi begitu kebudayaan Islam merosot karena korupsi internal dan serbuan dari Mongol. Pada abad selanjutnya, Eropa yang mewarisi semangat invasif dunia Islam. Kolonialisme membawa ilmu pengetahuan Barat ke seluruh dunia dan membentuk dunia sekarang.

Sekarang ini rata-rata hasil teknologi yang anda nikmati tak lepas dari jasa ilmuwan Islam di masa silam. Sepenting itulah orang Islam bagi anda non-muslim.

Debat imajiner antara Averroes (Ibnu Rushd) dan Porphyry.
Debat imajiner antara Averroes (Ibnu Rushd) dan Porphyry. Monfredo de Monte Imperiali Liber de herbis, 14th century.

Tapi... Buat teman-teman muslim,

Tahukah anda bahwa umat Islam di era kejayaan khilafah dulu itu bisa pintar gara-gara sikap mereka yang cukup liberal? 

Semua berawal dari penerjemahan besar-besaran ilmu pengetahuan Yunani. Filsafat Yunani dipelajari penuh semangat oleh sarjana Islam masa itu. Semua buku dilahap habis dan diterjemahkan (beserta komentar dan kritik). Hasilnya adalah kelak bangsa Eropa harus melalui terjemahan Arab untuk mengakses ilmu-ilmu Yunani.

Begitu total ilmuwan dan sarjana Islam pada masanya dalam menggeluti filsafat dan ilmu Yunani. Saya sampai ngebayangin andai mereka hidup pada saat ini pasti udah dikafirkan karena ide-ide "liberal"nya. Sebagai contoh, Ibnu Khaldun bahkan sudah menulis soal evolusi.

Tercerahkannya bangsa Eropa, ironisnya bersamaan dengan meredupnya semangat ilmu pengetahuan di dunia Islam. Orang-orang Islam menuju ke semangat "gampangan" dan enggan berpikir. Slogan populernya kayaknya "jangan mendewakan pikiran"....apa pula maksud mendewakan pikiran?

Eropa, dengan ilmu yang mereka ambil dari guru mereka (yakni orang-orang Islam) memulai abad penjelajahan dan penjajahan. Umat Islam terpuruk dan terbelakang. Mau maju langkah mereka terlalu berat, digandoli sama keterbelakangan mereka. Ulama? Mereka tak tahu banyak soal ilmu duniawi dan dinamikanya. Lahir dikotomi kafir (barat) versus muslim. Saat itu simbol kejayaan Islam yakni Kesultanan Turki sudah redup. Dimana-mana negara Islam dijajah bangsa barat ... yes kafir .... Lalu berdirinya Israel oleh prakarsa Inggris membuat harga diri muslim total tercabik-cabik. Bangsa Arab melawan tapi kalah. Sampai era kemerdekaan bangsa-bangsa, orang Islam sudah kadung tertinggal jauh. Di mana-mana statusnya adalah negara jajahan. Sikap inferior dan insecure itulah yang terpupuk bertahun-tahun hingga kini.

Apa yang umat Islam alami saat ini kurang lebih karena perasaan kerdil oleh kekalahan sejarah. Jadi bisa dimaklumi kalau mereka intoleran, terbelakang dan ngamukan. Alih-alih bangkit mengejar ketertinggalan pemikiran dan ilmu, dalam pikirannya cuma khilafah dan negara bersyariat Islam. Semua teori kekacauan yang mereka percaya paling banter adalah gara-gara Yahudi zionis. Ada yang salah gini gitu ya itu ujung-ujungnya salah Yahudi...Sementara propagandanya hanya bisa pakai teknologi bikinan kafir...yang ironisnya dulu pada masa awal dipelopori oleh mbah-mbah ilmuwan muslim di abad kejayaannya.
Sampai era kemerdekaan bangsa-bangsa, orang Islam sudah kadung tertinggal jauh. Di mana-mana statusnya adalah negara jajahan. Sikap inferior dan insecure itulah yang terpupuk bertahun-tahun hingga kini.

Terus apa yang bisa dilakukan?

Bagi saya, dikotomi Islam dan kafir itu udah ketinggalan jaman. Sekarang adalah era "manusia" atau "bukan manusia". Kemanusiaan lah yang paling penting, karena agama lahir untuk "memanusiakan". yang saya percaya, muslim yang baik adalah yang menyumbang paling besar untuk kemanusiaan. Kemajuan dimulai dengan memperbaiki pola pikir. Menjauhi kejumudan dan sikap waton taqlid. Mencoba memahami yang berbeda dan mempelajari yang berguna.

Mungkin kita perlu ratusan tahun. Mungkin ribuan. InsyaAllah.
Jika menurut Anda bermanfaat, silakan berbagi tulisan ini ke teman Anda dengan tombol Google+, Twitter, atau Facebook di bawah ini.
Comments
0 Comments
0 Comments

Berikan Komentar

Post a Comment

Translate This Page into