Home » , » Tanaman Sentrong: Sayuran yang Bisa Memicu Tumor?

Tanaman Sentrong: Sayuran yang Bisa Memicu Tumor?

Diceritakan oleh Tricahyo Abadi pada Tuesday, January 14, 2014 | 2:11 PM

Ana ndesaku ana taneman sing jenenge sentrong. Iki kalebu taneman liar, isa thukul ing tegal lan pinggir-pinggir sawah kaya ing gambar ngisor sing takpoto isuk mau karo anakku iki.

Golek sentrong

Klawan tanduran petani, iki klebu gulma. Nanging kanggone petani dhewe, sejatine sentrong ora dadi mungsuh, malah kena digawe sayur. Godhong sentrong yen dipecel seger, dirujak ya enak. Kanggone ilatku dhewe sing mesthi ana hubungane karo irungku, sayur sentrong iki ngganda arum kayadene kenikir. Hmm mbayangke wae isa ngiler isuk-isuk ngene.



Sakliyane kuwi kembange kena digawe dolanan anakku. Yen wis wayah garing, kembang sentrong mekrok putih memper kapuk, yen disebul puhhh, padha mabur keterak angin. Bocah-bocah padha surak seneng atine.

Yen wis ngrasakke kang kasebut ana ndhuwur njur atiku mbatin, mayar tenan urip iki. Ning bareng dakgrayangi ana latare Mbah Google, aku malah nemu yen taneman iki duweni zat sing isa njalari tumor. Lha dalah, yen wis ngene banjur bingung ngonsumsi sentrong apa ora.

Dak rasa-rasa dhewe, yen ora kakehan sajake aman. Pancen apa bae yen kakehan ya mesthi dadi penyakit, ta? Iki mung salah sijine conto yen menungsa kuwi diparingi ngerti isa malah dadi keweden. Urip iki sejatine gampang, mung bae menungsa sing nggawe angel awake dhewe.

Junrejo, 14 Januari 2014

blajar crita nganggo basa Jawa

Terjemahan:

Di desa saya, tanaman ini disebut sentrong. Tanaman ini termasuk tanaman liar, yang bisa tumbuh di pekarangan, lahan-lahan terlantar (seperti taman depan rumah yang jarang ditempati oleh penghuninya di perumahan saya tinggal), juga di lereng-lereng sungai seperti gambar yang baru kuambil pagi tadi bersama anak saya ini.

Terhadap tanaman petani, sentrong termasuk gulma. Namun, bagi petani sendiri sentrong sebenarnya bukan musuh, justru bisa dipakai sayuran. Daun sentrong ini bila dipakai sayur pecel segar, dipakai sayur rujak juga enak. Menurut lidah saya sendiri yang tentu saja berhubungan dengan hidung, daun sentrong ini terasa harum seperti daun kenikir. Hmmm, membayangkan saja air liur saya langsung menetes pagi-pagi begini.



Selain itu, bunga sentrong ini dapat dipakai mainan anak saya. Jika sudah kering, bunga sentrong akan mekar keputih-putihan mirp kapuk yang jika ditiup akan berterbangan terbawa angin pedesaan. Kemudian anak-anak akan bersorak, kegirangan hatinya.

Jika sudah merasakan kedua hal yang saya sebutkan di atas hati saya kemudian merasa, sederhana benar hidup ini. Tetapi ketika saya telusuri di halaman Mbah Google, saya malah menemukan bahwa tanaman ini memiliki zat alkaloida yang bisa memicu tumor. Lho, jika sudah begini saya menjadi bingung apakah akan tetap mengonsumsi sentrong atau tidak

Kupikir-pikir sendiri, jika tidak terlalu banyak kelihatannya aman saja. Bukankah semua itu apabila terlalu banyak mengakibatkan penyakit? Ini sebenarnya hanya salah satu contoh bahwa manusia itu ketika diberi pengetahuan justru awalnya akan menjadi ketakutan menerima kenyataan. Hidup ini sejatinya mudah, hanya manusia saja yang memperumit hidupnya sendiri. Rumitnya kehidupan itu nampak pada pembukaan film komedi God Must Be Crazy, yang saya kutip berikut ini sebagai penutup:

"Hanya 600 mil jauhnya dari tempat itu, terdapat kota megapolitan. Disitulah kita bisa menemukan "manusia yang telah beradab." Orang beradab menolak menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Alih-alih, mereka mereka mengubah lingkungannya agar sesuai dengan diri mereka. Jadi mereka membangun perkotaan, jalan, kendaraan, mesin. Dan mereka membangun tenaga listrik untuk mengoperasikan alat-alat canggih yang dapat membantu meringankan beban kerja mereka. Masalahnya, mereka tidak tahu kapan harus berhenti. Semakin mereka memperbaiki lingkungannya supaya hidup menjadi lebih mudah, justru semakin rumit lingkungan itu mereka buat. Sekarang ini anak-anak harus menjalani 10 hingga 15 tahun sekolah supaya bisa bertahan hidup di habitat yang begitu rumit dan penuh resiko ini. Dan "orang beradab", yang menolak menyesuaikan diri dengan lingkungannya, kini mendapati diri mereka harus terus melakukan adaptasi dan adaptasi kembali setiap jam sehari penuh terhadap lingkungan yang telah dia ciptakan sendiri."

Sekian +Tukar Cerita Apasaja kali ini. Jika menarik, bagikan cerita ini dengan tombol share Facebook di bawah ini. :)
Jika menurut Anda bermanfaat, silakan berbagi tulisan ini ke teman Anda dengan tombol Google+, Twitter, atau Facebook di bawah ini.
Comments
0 Comments
0 Comments

Berikan Komentar

Post a Comment

Translate This Page into