Home » » Bagaimana Meyakini Keberadaan Tuhan

Bagaimana Meyakini Keberadaan Tuhan

Diceritakan oleh Gugun Ekalaya pada Saturday, September 26, 2009 | 1:16 PM

Jadi bagaimana meyakini adanya Tuhan?

Sebelumnya kita perlu mendefinisikan apa itu "Ada" dan apa itu "Tuhan". Ada banyak penjelasan filsafat tentang makna "Ada". Silakan anda merujuk ulang pada bagian awal bab ini, yaitu pada tulisan "Membuktikan Tuhan". Atau lebih baik lagi, bacalah artikel filsafat pengetahuan tentang ontologi. Perlu diketahui bahwa pendefinisian Tuhan sendiri sebenarnya sangat pekat dengan sejumlah masalah terminologis. Jika Tuhan adalah sesuatu yang tak terbatas, mungkinkah kita mendefinisikan sesuatu yang tak terbatas? Kita tahu bahwa definisi merupakan pembatasan. Kita mungkin saja mempersempit pemaknaan, bahwa Tuhan itu "terpaksa" kita definisikan agar kita bisa mengenalinya. Seperti sudah disinggung sebelumnya, kita mendefinisikan Tuhan sebagai:
  1. Penggerak utama
  2. Pusat semua gerakan
  3. Bersifat superior
  4. Tak terbatas
  5. Mutlak
  6. Berbeda dengan makhluk
Dengan demikian kita mungkin agak terbantu untuk mengenali siapa itu Tuhan. Tapi definisi ini, sesuai dengan artinya "pembatasan", malah mempersempit wawasan kita. Tuhan yang didefinisikan tentunya bukanlah Tuhan yang utuh dan sejati. Wujud tak terbatas (mutlak) tentunya tak akan bisa dibatasi oleh definisi. Apalagi oleh makhluk terbatas seperti manusia. Beberapa pandangan mistik tampaknya selaras dengan pernyataan ini. Sufisme, sekte esoteris dalam Islam, mengibaratkan pemahaman manusia adalah cawan sementara realitas ketuhanan sendiri adalah samudra. Taoisme menyatakan bahwa "Tao tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Tao yang dikatakan bukanlah Tao yang sebenarnya."
homas Aquinas mengajukan lima dalil untuk membuktikan keberadaan Tuhan
Thomas Aquinas mengajukan lima dalil untuk membuktikan keberadaan Tuhan. (karya Carlo Civrelli)

Argumen yang lebih meyakinkan tentang Tuhan adalah keberadaan kesadaran. Kita sebagai sesuatu yang sadar (dalam pepatah Descartes, "cogito ergo sum") yakin bahwa kesadaran itu benar-benar "ada". Kita tak bisa menyangkal keberadaan "aku yang sadar" ini. Di dunia ini banyak "aku yang sadar". Semua saling berinteraksi. Dari mana asalnya "aku" ini? Bagaimana mungkin "aku" ini bisa "ada" dan sadar? Mungkinkah "aku" yang sadar, berkehendak, berpengetahuan, berperasaan dan bertujuan ini muncul dengan sendirinya?

Saya memandang bahwa sang "aku" atau kesadaran ini adalah semacam reseptor atas persepsi yang terwujud dalam realitas. Kenapa "aku" cuma reseptor? Karena "aku" hanyalah salah satu manifestasi dari roh. Roh (ruh) ini adalah entitas hidup yang sebenarnya. Roh ini jugalah yang berkehendak menciptakan simulakrum realitas yang dipersepsi oleh si "aku". Darimana roh berasal? Tentunya ia berasal dari wujud rohani yang lebih tinggi lagi. Jika kita beriman, tentu kita akan menjawab Tuhan.

Tuhan menciptakan roh lalu mewujudkannya dalam beberapa lapisan manifestasi. Manifestasi terendah adalah materi. Perlu dicatat, materi menurut pandangan ini bersifat rohani. Karena itulah atom-atom penyusun materi semesta ini bisa bergerak dan berinteraksi (catatan kaki: Bandingkan dengan ayat-ayat tentang Tuhan yang berbicara kepada benda-benda mati seperti bumi, langit). Manifestasi tertinggi adalah "aku". "Aku" ini tidak lepas dari materi yaitu tubuh organisnya. "Aku" dan tubuh merupakan manifestasi roh dalam lapisan berbeda dan saling mempengaruhi. Dalam ajaran Islam, "aku" inilah yang akan dimintai pertanggungjawaban atas segala perbuatannya setelah mati.

Bagaimana dengan roh tinggi itu? Apakah ia ciptaan atau justru adalah Tuhan itu sendiri? Atau ia hanya salah satu manifestasi-Nya saja? Ini merupakan pertanyaan yang sulit dijawab. Di sinilah tabir ketuhanan (kasyf) mulai tergelar. Kita cuma bisa menembus sebagian saja. Lagi-lagi menurut sufi "manusia adalah cawan sementara realitas ketuhanan adalah samudra." Kita tak mencukupi pergi ke sana.
Saya pribadi lebih suka memperlakukan pertanyaan ini sebagai misteri yang indah. Saya tak ingin mengetahui jawabannya sekarang.

Argumen-argumen ilmiah dan filsafat sebenarnya kurang meyakinkan bagi saya pribadi. Bukan berarti mereka tak bisa dipakai. Seperti yang sudah saya singgung. Iman adalah keyakinan meta-rasional. Jadi penalaran kritis lewat ilmu pengetahuan dan filsafat perlu dijalani lebih dulu. Ia adalah tangga menuju Tuhan. Saya-sampai saat menulis buku ini-lebih mempercayai bahwa Tuhan lebih banyak diketahui melalui "intuisi ilahiah". Terminologi Islam untuk hal ini adalah hidayah. Arti hidayah secara umum adalah petunjuk Tuhan. Karena kita, manusia, adalah makhluk subyektif, maka hidayah pun akan ditafsirkan secara subyektif juga. Dengan kata lain, sifat pengetahuan akan diri-Nya adalah intuitif dan subyektif. Hidayah tentu bukan turun begitu saja dari langit. Ia pastilah melewati sejumlah proses yang mencukupi terwujudnya hidayah tersebut. Proses mencukupi ini terbentuk secara kondisional lewat proses belajar (intelektual) dan perenungan (kontemplasi).

Ajaran Islam menyatakan bahwa Tuhan itu berkehendak dan senantiasa akan membimbing manusia. Lewat ciptaan-Nya, dikatakan bahwa "Ia ingin dikenali". Dengan demikian, atas izin-Nya manusia akan selalu bisa "menemukan" Tuhan di mana saja. Jadi, alih-alih ditemukan secara ontologis, justru Tuhanlah yang "aktif menunjukkan diri-Nya" kepada manusia. Tinggal manusia itu sendiri bisa mengenali-Nya atau tidak.
Sufisme mengatakan, manusia biasa hanya akan melihat piala saat minum sedangkan orang tercerahi akan melihat wajah Sang Kekasih.

Tuhan sebagai Pribadi?

Karena Tuhan berbeda samasekali dengan makhluknya jelasnya ia bukan merupakan persona. Ia melampaui wujud itu. Karena Tuhan bukanlah persona maka sosoknya jadi abstrak. Karena Tuhan terlalu abstrak untuk didekati, sistem keyakinan menciptakan suatu cara untuk membantu memperkenalkan-Nya. Ke-abstrak-an Tuhan haruslah diterjemahkan ke dalam sosok yang bisa dipahami manusia kebanyakan. Memang ini akan "mencemari kesucian-Nya", namun fungsi transformatifnya besar sekali. Anthropomorphism dan Personifikasi adalah dua pendekatan yang umum dipakai dalam memperkenalkan Tuhan.

Anthropomorphism adalah penggambaran Tuhan ke dalam wujud dan atribut manusiawi.
Personifikasi adalah pengenaan atribut-atribut manusiawi kepada obyek yang abstrak.

Contoh Anthropomorpism:
  • Mitologi Yunani, merupakan contoh paling baik tentang dewa-dewa yang bertingkah seperti manusia.
  • Dalam Hinduisme, Tuhan diwujudkan dalam gambaran tentang Brahma, Wisnu, dan Syiwa. Wisnu berinkarnasi dalam wujud manusia yaitu Krishna.
  • Patung dewa-dewa pagan Cina, Afrika, Arab kuno dll. Wujud visual dewa-dewa tersebut adalah manusia.
Contoh Personifikasi:
  • Adanya kata ganti personal dalam kitab suci (Aku, Kami, Dia dll.)
  • Kutipan sabda Tuhan berupa kalimat dalam bahasa tertentu, seolah-olah Tuhan adalah persona.
  • Kitab suci menggambarkan beberapa perbuatan Tuhan seperti mendengar, marah, melihat, berkata dll. seolah-olah Tuhan berperilaku seperti manusia.
Anthropomorphism dan Personifikasi susah dihindari dalam sejarah beragama. Dengan Anthropomorphism dan Personifikasi manusia memiliki pegangan ideal tentang Wujud Sempurna untuk diimplementasikan dalam kehidupannya. Apalagi untuk kalangan masyarakat yang mayoritas awam wacana filosofis. Walau begitu, dua cara pandang ini dibatasi dengan ketat dalam Islam agar tak terlalu parah. Meski Anthropomorphism dilarang keras, setidaknya masih ada ruang untuk Personifikasi. Seketat-ketatnya batasan, rupanya penganutnya juga tak semuanya benar-benar patuh. Saat ini pun penggambaran tentang Tuhan oleh para muslim pun sering "berlebihan".
Gambaran umum yang biasa saya jumpai dari ceramah-ceramah keagamaan Islam adalah.
  1. Tuhan sebagai sosok protokoler yang tak kenal kompromi. Mirip dengan sosok super-hakim atau super-polisi atau birokrat.
  2. Tuhan sebagai sosok yang kelewat penyayang. Mirip dengan sosok super-kekasih.
  3. Tuhan sebagai sosok penghukum (punisher) yang tak kenal kompromi. Mirip dengan sosok super-algojo.
  4. Tuhan sebagai sosok yang berwibawa. Mirip dengan sosok raja yang super-adil.
Dalam tataran paling dangkal, penggambaran Tuhan yang manusiawi macam ini hanya cukup untuk "menakut-nakuti" atau "memikat" umat. Tapi sangat bermasalah untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ontologis mendasar. Jika kita benar-benar ingin "mensucikan" pandangan tentang Tuhan kita bisa memulainya dari pemahaman ontologis. Anthropomorphism dan Personifikasi memang susah dihilangkan secara mutlak. Yang bijak adalah menempatkannya sesuai konteks. Kita harus maklum bahwa tak semua orang bisa memahami doktrin dengan kacamata filosofis. Ada sejumlah proses intelektual dan juga spiritual yang harus dilewati.

Memandang Tuhan sebagai pribadi jelas tidak tepat karena pribadi adalah batasan personal. Sesuatu yang maha besar tak bisa diberi batasan personal. Ia melampaui batasan-batasan itu. Batasan personal hanya mungkin kita lakukan sebagai upaya simbolis. Maka segala sifat dan atribut hanya bisa ditempelkan pada simbol Tuhan ini. Itu bukanlah milik sejati Tuhan. Tuhan sebagai non-makhluk, non-benda dan non-persona, suci dari semua sifat dan atribut. Keberatan bisa dipastikan akan muncul sehubungan dengan pernyataan ini. Untuk bisa memahaminya, sekali lagi saya tekankan, kita harus memulai dari telaah ontologis.

Perbuatan Tuhan

Konsekuensi logis dari Tuhan yang non-personal adalah bahwa perbuatan-Nya jelas tak bisa dimaknai mentah-mentah sebagai perbuatan personal. Berikut ini kita akan membahas perbuatan Tuhan sesuai dengan ke-nonpersonal-an-Nya.
Perbuatan Tuhan yang paling jelas adalah bahwa ia sebagai penggerak sejati alam semesta. Bagaimanakah hubungan perbuatan-Nya dengan perbuatan manusia? Pada hakikat-Nya, perbuatan manusia tak lepas dari perbuatan Tuhan. Logikanya, jika Tuhan merupakan penggerak sejati alam semesta, sedangkan manusia adalah bagian dari alam semesta, maka gerakan kita adalah bagian dari gerakan Tuhan. Dr. M. Quraish Shihab, pakar tafsir Al Qur'an Indonesia bahkan pernah menulis bahwa penggunaan kata "Kami" sebagai kata ganti untuk Tuhan seolah-olah menyiratkan keterlibatan lebih dari satu pihak.

Ini tak lantas mengurangi kemandirian-Nya. Bagaimanapun harus diingat, Ia sejatinya bukan persona. Tak bisa disamakan antara perbuatan Tuhan dengan perbuatan makhluk. Perbuatan Tuhan adalah komponen dasar yang melandasi perbuatan manusia. Perbuatan manusia menjadi mungkin atas dasar perbuatan Tuhan (dalam bahasa agamanya, atas seizin Tuhan).

Tapi bagaimana jika kita berbuat dosa? Jika perbuatan kita hanyalah bagian dari perbuatan Tuhan, apakah Ia melakukan dosa?
  1. Untuk menjawab ini, kita harus memahami kerangka ontologi dari perbuatan Tuhan. Mari kita bedakan antara:Perbuatan Tuhan sebagai penggerak sejati semua gerakan atau sumber gerak (primer) yang mewujudkan realitas (ingat teori saya tentang progresivitas gerak dan struktur kejadian)
  2. Perbuatan manusia yang jadi mungkin karena penggerak sejati mengizinkannya
  3. Etika keagamaan tentang dosa dan pahala
Dosa dan pahala hanyalah pandangan etis, bukan bukan ontologis. Lebih jelasnya, jika kita bicara pada skala kuantum, tak ada yang dinamakan dosa dan pahala. Di wilayah atom-atom dan partikelnya, mana mungkin bicara tentang dosa dan pahala? Inilah wilayah perbuatan Tuhan sebagai gerakan primer, yaitu gerakan dasar yang membentuk semesta kejadian, yang mengizinkan manusia hidup bergerak dan berinteraksi. Lalu darimana asalnya dosa?
Dosa barulah dikenal ketika kita bicara dalam kerangka hukum agama. Agama sendiri baru berlaku pada tataran realitas sehari-hari. Ia adalah pedoman etis yang mengatur bagaimana manusia harus berhubungan dengan orang lain, alam dan Tuhan itu sendiri. Jadi dosa dan pahala hanya buat manusia, bukan Tuhan. Ia berlaku pada tataran yang berbeda. Untuk lebih memahaminya, mari kita bandingkan antara hukum-hukum Fisika klasik dengan Mekanika Kuantum. Kedua hukum ini hanya berlaku pada tatarannya sendiri. Fisika klasik hanya memadai untuk mengukur fenomena fisik sehari-hari, sedangkan Mekanika Kuantum dipakai mengukur fenomena fisik pada skala sub-atom. Mekanika Kuantum terlalu rumit untuk diterapkan pada fenomena fisik sehari-hari. Tentu saja tak bisa dibilang kedua hal tersebut bertentangan.

Jika kita bisa terlibat dalam perbuatan Tuhan, bagaimana memahami independensi-Nya dari makhluk termasuk ruang dan waktu?
Bagaimana dengan predikat ke-takterbatas-annya?
Bukankah dalam definisi ini Ia menjadi terbatas dalam ruang dan waktu?

Ruang dan waktu adalah ilusi. Tiliklah kembali pandangan saya, "Setiap kejadian adalah hal yang secara struktural terwujud dari gerak dan perubahan komponen-komponennya. Komponen ini bisa dilacak hingga skala sub-atomik atau kuantum. Gerak dan perubahan inilah yang melahirkan ilusi tentang ruang dan waktu." Perhatikan persamaan dan perbedaannya dengan Buddhisme. Buddhisme menyatakan bahwa fenomena duniawi ini cuma ilusi. Sungguh pernyataan mengagumkan dari ajaran yang lahir ribuan tahun sebelum kelahiran Mekanika Kuantum. Sayangnya, Buddhisme tak lebih jauh menerangkan bagaimana ilusi itu terjadi.
Menurut beberapa pandangan Sufi dan pantheisme, keterpisahan kita dengan Dia pun merupakan ilusi. Gerakan Tuhanlah yang menciptakan ruang dan waktu. Ruang dan waktu adalah salah satu "wajah" Dia sendiri. Jika ditilik dari pandangan ini, hanya dengan adanya "persatuan keberadaan" inilah kita bisa mengenal-Nya. Jika Dia dilepaskan dari keberadaan realita ini, bagaimana mungkin kita bisa mengenal-Nya?

Tuhan adalah tak terbatas karena dia sumber gerak yang mewujudkan realitas (termasuk ruang dan waktu). Realitas itu terbatas karena gerakan hanyalah bayangan dari-Nya saja. Uniknya, manusia kemudian memproyeksikan Tuhan ini sebagai pribadi, "memisahkan-Nya" dari keberadaan semesta atau realitas. Bagaimana hal ini bisa terjadi?

Pengetahuan manusia tidak pernah lengkap. Ia memandang segala sesuatu secara terpisah-pisah dalam fragmen. Ketika berhadapan dengan sesuatu yang maha besar, tak ada cara lain, ia harus atau terpaksa memformulasikannya. Pada masa lalu manusia mewujudkan sosok maha besar ini dalam wujud dewa-dewa yang anthropomorphistic. Tujuannya tentu agar manusia umum dengan mudah mengenali-Nya. Lalu datanglah wahyu (bagi yang percaya wahyu) untuk memetakan sang maha besar ini dengan simbolisme yang lebih memadai.

Perbuatan Tuhan, lebih jauh lagi

  1. Mari kita tilik pertanyaan-pertanyaan ini:Apakah bencana merupakan hukuman Tuhan bagi umat yang membangkang? Kenapa banyak orang tak bersalah jadi korban?
  2. Apakah Tuhan menyayangi manusia? Jika ya, mengapa masih ada kejahatan dan perang?
  3. Apakah mukjizat itu mungkin?
  4. Apakah Tuhan memberi hidayah kepada semua orang? Jika ya, kenapa masih ada orang jahat? Jika tidak, bagaimana Tuhan bisa dikatakan adil?
  5. Apakah Tuhan berbuat adil? Samakah keadilan Tuhan dengan keadilan manusia?

Hukuman Tuhan

Hukuman Tuhan dalam kasus ini bermakna relatif, ia berlaku cuma bagi para pendosa. Meskipun kondisi yang dialami sama makna bagi setiap pribadi beda. Sama halnya dengan Tuhan itu sendiri. Meskipun ia merujuk pada hal yang satu, persepsi manusia kepada-Nya tak selalu sama. Bencana mendekatkan manusia kepada kematian. Seorang muslim diharapkan membawa seminim mungkin dosa saat mati. Sedangkan pendosa, suatu hukuman atasnya jika ia mati dalam dosa. Ia dihukumi dengan batas waktu hidup yang mendadak habis saat ia belum menebus dosa-dosanya.

Mari kita bedakan istilah hukuman yang diberikan Tuhan dengan hukuman yang diberikan manusia, masyarakat dan negara. Hukum Tuhan berdasarkan pada sifat ketuhanan-Nya yang non-personal dan tak terbatas. Hukum Tuhan terwujud dalam hukum universal yang dalam ajaran Islam disebut dengan istilah sunatullah. Hukum ini tidak menyasar atas paradigma bersalah atau tidak bersalah karena semuanya bisa jadi korban. Hukum Tuhan berlaku sebagai tanda kekuasaan atas umat manusia di alam semesta (ayatullah). Bandingkan dengan hukum manusia yang terbatas, terikat pada prasangka, dakwaan dan undang-undang yang berlaku khusus. Hukum Tuhan menyasar siapa yang sadar sedangkan hukum manusia menyasar siapa yang bersalah.

Bencana itu sendiri merupakan ayatullah, tanda-tanda kekuasaan Tuhan di bumi. Ia terjadi karena banyak faktor, perbuatan manusia hanya salah satunya. Bencana tidak terjadi secara sederhana hanya karena manusia ingkar pada Tuhan. Dalam pandangan agama, ada dua macam manusia yang menjadi korban bencana tapi masih hidup. Yang pertama adalah manusia yang dihukum karena ketidaksiapannya mati dalam kesucian atau dengan kata lain mengakhiri masa tanggungjawabnya dengan baik. Yang kedua adalah manusia yang diuji oleh bencana. Bencana menjadi sarana intropeksi diri bahwa kesempatannya untuk berbuat baik dalam hidup itu terbatas dan harus dipergunakan sebaik-baiknya. Sementara yang mati karena bencana itupun juga ada dua macam, mati sebagai orang baik atau menjadi pendosa. Jadi bencana dan hukuman bermakna relatif tergantung kondisi yang ada pada masing-masing korban.

Kasih Sayang Tuhan

Demikian juga dengan kasih sayang. Bedakan kasih sayang ilahi dengan kasih sayang dalam ungkapan sehari-hari. Kasih sayang Tuhan berarti kecukupan potensi yang mendukung berlangsungnya kehidupan. Di alam ini makanan bagi semua makhluk sudah tersedia. Tinggal makhluk di dalamnya yang harus mengelola ketersediaannya agar cukup untuk bertahan hidup. Hewan diberi naluri sedangkan manusia diberi akal untuk melaksanakan hal itu. Menarik dilihat bahwa ada beberapa binatang yang menimbun makanannya untuk bekal di musim dingin. Mirip seperti manusia yang bertani di masa sekarang. Dahulu kala, konon mereka juga berlaku seperti binatang-binatang itu, mengumpulkan makanan untuk cadangan berhari-hari. Manusia hidup dalam masyarakat yang terus berkembang. Penduduk bertambah dan pola hidup berubah. Jika manusia berhasil secara konsisten mengelola ketersedian pangan yang cukup maka ia merefleksikan kasih sayang Tuhan.

Kejahatan adalah hal yang lain lagi. Ia masih akan ada karena merupakan bagian dari kemanusiaan itu sendiri. Bukankah cuma manusia yang mengenal kejahatan? Manusia hidup dalam masyarakat yang kondisinya selalu berbolak-balik seperti halnya hatinya. Kedamaian langgeng sebenarnya utopia belaka. Sementara itu kejahatan adalah hal yang kompleks, kebanyakan bersinggungan dengan hubungan antar manusia. Kasih sayang Tuhan terwujud lewat turunnya wahyu. Wahyu mengajarkan moralitas tentang baik dan buruk agar manusia bisa hidup damai. Memang jadi masalah ketika baik dan buruk ini ditafsirkan secara relatif. Namun setidaknya tetap ada pandangan umum tentang nilai-nilai universal kebaikan. Misalnya, "perlakukan orang lain sebagaimana kau ingin diperlakukan", "jangan mencuri, membunuh dan menipu" dan lain-lain.

Dalam kasus perang, Tuhan memberi manusia potensi berperang dan berdamai, membangun dan merusak. Tuhan bersabda lewat wahyu gunakan potensi berdamai agar hidup berlangsung baik. Gunakan potensi membangun untuk mencegah kerusakan. Bagaimanapun dalam kenyataan, yang terjadi tak selalu indah. Kadang peperangan terpaksa terjadi karena suatru keadaan yang lebih baik hendak diwujudkan. Harus kita akui, terwujudnya masyarakat dan peradaban abad 20 ini telah melewati banyak pertumpahan darah yang mengerikan. Dengan prinsip kasih sayang, yaitu menjaga, merawat dan melindungi kita selalu berharap bahwa perkembangan masyarakat di masa depan bisa berlangsung dengan damai.

Mukjizat

Kehidupan ini berlangsung atas dasar-dasar tertentu yang ditetapkan oleh Tuhan. Bagi yang tak percaya Tuhan, hidup berlangsung dalam hukum-hukum tertentu. Suatu saat, terjadi kejadian yang dikatakan ajaib, yang jarang terulang lagi. Ada kisah tentang laut yang terbelah, tongkat jadi ular, penyakit yang sembuh tanpa obat, orang mati hidup kembali, manusia lahir tanpa benih ayah dll. Semua contoh kasus ini merupakan fenomena yang melampaui ilmu pengetahuan. Orang menyebutnya sebagai mukjizat. Mukjizat dimaknai sebagai "campur tangan langsung" oleh Tuhan. Ini adalah hal yang sulit dibuktikan dan juga diingkari. Tak ada data ilmiah tentang mukjizat sehingga ia tidak bisa diuji secara ilmiah (sesuai sifat mukjizat yang melampaui ilmu pengetahuan itu sendiri). Mukjizat hanya kita ketahui dari kitab suci dan orang-orang yang mengaku mengalami (testimoni). Jadi apakah mukjizat benar-benar terjadi?

Saya tak hendak menjawab pertanyaan ini melainkan hendak mencoba memahami makna mukjizat itu sendiri. Para kritikus kitab suci mendefinisikan ulang bahwa mukjizat hanyalah simbolisme terhadap campur tangan Tuhan di dunia. Menurut mereka mukjizat tak benar-benar terjadi sebagai sebuah peristiwa melainkan hanya sebuah kisah simbolik yang menekankan perbuatan Tuhan. Saya sendiri tertarik untuk menelaah makna "campur tangan langsung" oleh Tuhan yang merupakan arti dari mukjizat. Apakah campur tangan langsung itu?

Jika kita menilik ulang tulisan saya tentang ontologi keberadaan Tuhan di atas, istilah "campur tangan langsung" akan melanggar esensi ketuhanan itu sendiri. Saya memaknai mukjizat sebagai sebuah kejadian di mana komponen-komponen strukturalnya tersusun secara khusus, tak lazim, luar biasa dalam waktu tertentu. Mukjizat tidak melanggar hukum alam karena pelanggaran akan berakibat serius terhadap sistem yang sudah berjalan. Kekhususan ini tak bisa atau sukar didata oleh ilmu pengetahuan karena terjadi secara insidental. Setelah mukjizat terjadi, semuanya menjadi normal lagi. Ini tak memberi waktu yang cukup untuk melakukan pengamatan. Jadi mukjizat memang cuma bisa diformulasikan lewat teori atau diimani. Dan yang lebih jelas, bagi yang mengalaminyalah mukjizat menjadi nyata.

Keadilan Tuhan

Keadilan Tuhan menyangkut tentang ukuran-ukuran yang Ia tetapkan dalam realitas dan kehidupan. Makhluk hidup akan mendapat sesuatu sesuai usahanya dan kondisi yang memungkinkannya. Dia tidak menentukan hasil melainkan menetapkan sejumlah syarat atau kadar yang diperlukan untuk memperoleh hasil. Tuhan menggerakkan kejadian dalam ukuran terstruktur. Suatu hal jadi mungkin jika syaratnya tercukupi. Dengan adanya ukuran-ukuran ini, dalam batas tertentu, beberapa hal bisa diperkirakan saat sebuah tindakan hendak dilakukan. Keadilan Tuhan adalah tidak mendeterminasi hasil sehingga setiap orang akan bertanggung jawab atas niat dan tindakannya. Keadilan Tuhan merupakan keadilan mendasar yang merupakan landasan bagi keadilan manusia.

Keadilan dalam kerangka pandang manusia adalah menempatkan segala sesuatu pada ukurannya. Keadilan manusia bisa dikenali secara praktis lewat hukum dan norma kemasyarakatan tapi keadilan Tuhan adalah sesuatu yang kompleks. Mengatakan adil menurut Tuhan adalah sebuah pernyataan yang rancu secara ontologis, namun tidak secara umum. Dengan demikian kita harus meletakkan istilah adil ini dengan adil pula. Keadilan manusia haruslah selaras dengan keadilan Tuhan dan nilai kebaikan universal. Jika ada klaim sepihak yang menggunakan kata keadilan Tuhan untuk menindas manusia, maka ini adalah keadilan palsu yang mencatut nama Tuhan. Tuhan adalah bagi seluruh umat manusia. Klaim keadilan yang hanya memenuhi kepentingan satu pihak saja berarti mengingkari sifat keadilan Tuhan.

Baca dari awal: Tuhan, Sebuah Wacana Ontologis dalam Paradigma Islam
Jika menurut Anda bermanfaat, silakan berbagi tulisan ini ke teman Anda dengan tombol Google+, Twitter, atau Facebook di bawah ini.
Comments
0 Comments
0 Comments

Berikan Komentar

Post a Comment

Translate This Page into