Home » » Tuhan, Sebuah Wacana Ontologis dalam Paradigma Islam

Tuhan, Sebuah Wacana Ontologis dalam Paradigma Islam

Diceritakan oleh Gugun Ekalaya pada Saturday, September 26, 2009 | 9:17 AM

Sepanjang sejarah manusia selalu tak lepas dari figur transenden yang dipuja sebagai Sang Maha Kuat, Abadi, Maha Adil, Baik dan-lain-lain. Figur ini dipercaya sebagai pencipta paling awal yang tak diciptakan, mengatur dan menguasai segalanya serta abadi. Jika kita lihat berbagai peradaban dunia, fenomena pengakuan terhadap keberadaan Tuhan ini merupakan hal yang umum. Kepercayaan ini termanifestasikan pada upacara pemujaan dewa-dewa, roh dan atau Tuhan. Setiap budaya, agama, kepercayaan dan filsafat berusaha menjelaskan sosok Tuhan dengan caranya masing-masing. Islam mengajarkan bahwa ada 99 nama yang mewakili sifat Tuhan yang esa. Hindu memahami Tuhan sebagai wujud yang memiliki manifestasi berupa-rupa (Trimurti Brahma, Syiwa, Wisnu). Kristen dalam pandangan mayoritas penganutnya juga memandang Tuhan sebagai 3 kesatuan tak terpisahkan (Tuhan Bapa, Roh Kudus dan Putra). Agama tradisional Cina memiliki lebih banyak lagi dewa-dewa seperti orang Yunani.

Dewa Wisnu, Siwa, dan Brahma di Terai, Bihar India dari abad ke-10
Dewa Wisnu, Siwa, dan Brahma di Terai, Bihar India dari abad ke-10
Sebagai anti-tesis, beberapa aliran filsafat mencoba "membantainya" habis-habisan. Akan tetapi sampai saat ini ketuhanan masih eksis. Belum mati-mati juga. Ini bukti bahwa ketuhanan masih menjadi kebutuhan abadi (perennial) manusia secara umum. Tuhan memang misteri terbesar bagi manusia sepanjang sejarah. Apakah upaya "pembunuhan Tuhan" ini akan berhasil kelak? Ini merupakan sebuah pertanyaan menantang yang hanya bisa dijawab waktu.

Beberapa Paradigma Tentang Tuhan

  1. Definisi umum: Penggerak utama
  2. Pusat semua gerakan
  3. Bersifat superior
  4. Tak terbatas
  5. Mutlak
  6. Berbeda dengan makhluk

Membuktikan Tuhan

Berbagai upaya telah dilakukan untuk membuktikan keberadaan Tuhan. Sebagian meyakinkan dan sebagian tidak. Para ilmuwan yang tidak mempercayai wahyu berusaha mencari pembuktian lewat sains. Sebagian dari mereka menjadi yakin dan sebagian malah jadi atheis. Ada pula yang menjadi agnostik, melepaskan diri dari sikap percaya atau tidak percaya karena menganggap bahwa Tuhan tak bisa dibuktikan. Jadi upaya seperti apakah yang layak untuk membuktikan-Nya?

Mau tidak mau, percaya tidak percaya kita memang harus berurusan dengan perkara Tuhan ini. Memang ajaib, jika sesuatu yang dikatakan tak terbatas bisa dijelaskan lewat batasan-batasan (definitif). Sebelum memasuki bahasan yang cukup rumit ini sebaiknya anda mempelajari dasar-dasar filsafat dulu. Lalu mari kita membahas ketuhanan secara bertahap. Mengapa bertahap? Karena pengetahuan bekerja dalam lapisan-lapisan. Berikut ini merupakan pendahuluan sebelum membahas ketuhanan. Ada tiga kata yang harus dipahami sebelumnya yaitu:
  1. Ada
  2. Gerak
  3. Batasan
"Ada" dalam pengertian filsafat, adalah semua yang kita ketahui atau ucapkan. Ada meliputi semuanya. Semua itu "ada" karena jika tidak, bagaimana mungkin kita kita bisa menyebutkannya. Kata "Ada" ini ditempelkan pada beberapa entitas yang ternyata berbeda substansinya. Perhatikan contoh berikut:
a. Pensil itu ada
b. Tarian itu ada
c. Kecemasan itu ada

Ada

Perhatikan bahwa kata-kata yang ditempeli dengan "ada" merupakan hal yang samasekali berbeda namun mereka berada dalam tataran "keberadaan" yang sama. Pensil itu adalah hal yang memiliki materi dan bentuk. Tarian bukanlah materi tapi terlihat bentuknya secara visual. Kecemasan bukan materi juga tak ada bentuknya. Anda bisa menempelkan kata "ada" pada semua hal. Tak masalah hal itu ada di mana. Apakah cuma ada di angan-angan? Cerita? Ajaran? Di alam semesta? Di pikiran? Ada meliputi semuanya. Naga itu ada, hantu itu ada, surga-neraka itu ada, peri itu ada, superman itu ada, penyihir itu ada, dewa itu ada dll. Inilah tataran keberadaan yang paling dasar.

Ada istilah "eksistensi". Eksistensi adalah "ada" yang menyaratkan keterlibatan ruang dan waktu. Jadi eksistensi cuma dipakai pada hal yang memiliki materi dan bentuk yang mendiamai ruang dan waktu. Pada tataran ini, tak semua yang tadi kita masukkan sebagai "ada' bisa disebut eksis. Naga itu tidak eksis karena memang tak bisa dibuktikan secara empiris, padahal naga adalah hal yang dalam definisinya makhluk yang memiliki materi dan bentuk naga serta menempati ruang dan waktu. Dalam bahasa sehari-hari, kata "eksis" yang bermakna khusus ini sering diganti dengan kata "ada" yang bermakna umum. Maka ketika membahas keberadaan, kita harus memilahnya. Keberadaan dalam pandangan apa yang mau kita bahas? Kejadian sehari-hari atau ontologi?

"Ada" bagi materi dan ada bagi sesuatu yang non-materi berbeda dalam sifat. Materi adalah apa yang bisa kita indera dan kita ukur. Memang tak semua materi bisa diindera, tetapi materi semacam itu masih bisa dikenali fenomenanya dan bisa diukur secara matematis, misalnya atom. Perlu diketahui bahwa definisi tentang materi dan non-materi adalah subyek bahasan yang tak kalah luas dan dalamnya dengan ontologi. Cabang baru dalam Fisika, Mekanika Kuantum membawa perubahan besar dalam memahami materi dan keberadaannya. Kita akan membahasnya nanti. Ketika kita menerapkan pemahaman tentang "ada", "eksistensi" dan "materi"pada bahasan tentang Tuhan, kita harus tahu bahwa Tuhan bukanlah materi.

Tuhan, ide, kecemasan, pengetahuan dan semacamnya kita tahu bukanlah materi. Tapi apakah yang membedakan itu semua? Dalam filsafat ada istilah "esensi", suatu hakikat yang membentuknya jadi "sesuatu per se". Tuhan disebut Tuhan karena esensinya sebagai Tuhan. Ide adalah ide karena memiliki esensi sebuah ide. Esensi berbeda dengan "substansi". Substansi adalah hal yang membangun sesuatu, biasanya berupa materi penyusun. Misalnya mobil. Kata "mobil" ini merujuk pada substansi pembangun benda hingga disebut mobil. Sehingga ketika mobil itu hancur dan nyaris tak berbentuk mobil, kita masih bisa mengenalinya sebagai mobil. Substansi "mobil" itu merupakan wahana bagi "esensi" mobil. Esensi mobil adalah sesuatu yang menjadikannya mobil. Definisi paling gampang untuk mobil adalah seperangkat mesin yang bisa dikendarai untuk bepergian. Substansi mobil adalah seperangkat mesin dalam gambarannya yang utuh sedangkan esensi mobil adalah hakikat fungsinya sebagai kendaraan untuk bepergian. Substansi pasti memiliki esensi tetapi esensi tak harus memiliki substansi. Ide, ilmu, perasaan dan Tuhan adalah contoh hal yang memiliki esensi tapi tak memiliki substansi.

Gerak

Gerak secara umum bisa didefinisikan sebagai perubahan dalam ruang dan waktu. Jadi "perubahan" adalah hal yang esensial dalam "gerak". Dalam definisi yang umum ini "gerak" mengacu pada perubahan material karena ia terikat ruang dan waktu. Sementara perubahan justru melampaui hal itu. Perubahanlah yang mendasari gerakan dan waktu bukan sebaliknya. Kita harus ingat, perubahan yang dimaksud di sini adalah kondisi primer yang mewujudkan gerak asal. Adapun perubahan yang ditimbulkan oleh gerak adalah topik tersendiri. Hal yang sulit dipahami adalah saat kita mencoba menyelaraskan pemahaman tentang gerak dan perubahan dengan Tuhan. Apakah Tuhan tak berubah sama sekali? Jika berubah bagaimana Ia dikatakan mutlak?

Nah, dari sinilah kita membedakan perubahan sebagai kondisi primer penyebab gerak dan perubahan yang merupakan akibat dari gerak. Tuhan merupakan penggerak primer. Perubahan Ia buat agar gerakan primer terwujud. Perubahan yang bagaimanakah? Perubahan primer yang mendasari terbentuknya persepsi tentang ruang, waktu, gerakan di dalamnya serta perubahan sekunder yang mengikutinya. Bagaimanapun ide tentang "gerak dan perubahan primer" ini adalah hasil intelektualisasi kita tentang kondisi yang kita alami. Jika dikaitkan dengan Tuhan, Tuhan adalah pengubah primer yang mendasari perubahan. Dengan demikian, ya benar! Ia berubah. Apakah Ia masih bisa dikatakan mutlak? Ya! karena Ia merupakan dasar mutlak dari semua perubahan. Jika Ia tak berubah maka tak mungkin ada perubahan dan gerakan. Hal-hal semacam ini dibahas banyak dalam metafisika.

Batasan

Batasan adalah apa yang membuat sesuatu menjadi tidak mutlak, terhalang kekuasaannya, terpisah substansinya dengan yang lain, tidak penuh, terikat, menjadi tergantung dengan entitas yang lain. Misalnya, manusia itu terbatas. Ia terbatas oleh kesehatan fisiknya, manusia lain, pengetahuan dll. Pengetahuan manusia juga terbatas. Terbatas oleh persepsi, penalaran yang tak lengkap, juga dengan realitas yang lebih luas darinya. Mudah sekali menemukan apa yang terbatas di dunia ini. Hampir semuanya terbatas.

Tuhan dikatakan tak terbatas. Ya, memang benar begitu, karena jika Ia terbatas bagaimana Ia disebut Tuhan. Namun kita harus mempergunakan kata batasan dengan tepat di sini. Tuhan tak terbatas maksudnya adalah dalam lingkup primordial, yaitu kondisi awal yang mewujudkan realitas. Ketika kita bicara Tuhan secara definitif, kita membicarakan Tuhan secara simbolik yang penuh dengan batasan. Mari kita bedakan dengan Tuhan pada tataran keberadaan "esensi" dan "substansi". Tuhan yang sejati dan tak terbatasi tidaklah tercakup dalam tataran umum dimana kita menerapkan istilah "batasan". Ada cerita menarik tentang ketakterbatasan ini.

Suatu saat seorang atheis bertanya, "Bisakah Tuhan menciptakan batu yang Ia sendiri tak mampu mengangkatnya?"

Seorang awam akan terjebak pada dua pilihan buntu, dijawab "bisa" atau "tidak bisa" sama-sama berarti mengingkari kekuasaan Tuhan. Bagaimana menyelesaikan teka-teki yang menjebak ini?

Mari kita tilik masing-masing premisnya.
  1. Tuhan adalah tak terbatas dan dia bukan persona.
  2. Manusia adalah persona yuang terbatas.
Kerancuan istilah (contradictio in terminis) terjadi saat sang penanya membatasi esensi ketuhanan dengan menganggap-Nya seolah-olah manusia yang bisa mengangkat batu. Predikat "mengangkat batu" adalah batasan karena batu maupun mengangkatnya adalah hal yang terikat ruang dan waktu sementara Tuhan melampaui semua itu. Jadi pertanyaan di atas merupakan pertanyaan yang salah secara internal. Inilah pentingnya memahami batasan.

Terlalu luas kiranya jika saya membahas keseluruhan tentang ada, gerak dan batasan di sini. Saya berharap pendahuluan ini memberikan landasan awal untuk memahami tulisan saya berikutnya. Pada bagian akhir saya akan merekomendasikan beberapa buku yang layak dibaca untuk memperkaya kerangka pandangan kita.

Lanjutan: Ontologi keberadaan Tuhan, Benarkah Tuhan Itu Ada?
Jika menurut Anda bermanfaat, silakan berbagi tulisan ini ke teman Anda dengan tombol Google+, Twitter, atau Facebook di bawah ini.
Comments
0 Comments
0 Comments

Berikan Komentar

Post a Comment

Translate This Page into