Home » , , » Berburu Buku

Berburu Buku

Diceritakan oleh Tricahyo Abadi pada Saturday, June 3, 2017 | 6:11 AM

Saya perlu buat batasan mengenai ini. Berburu buku saya bedakan dari pecinta buku. Kalau saya ibaratkan pemburu buku itu seperti pemilik harim atau keputren dalam arti derogatory, mereka mengoleksi buku-buku cantik untuk ditumpuk di ruangan pribadinya untuk dinikmati, baik dengan dibaca atau sekadar dipandang.  😍  Pecinta buku saya gambarkan di atas itu. Mereka mencari buku, membacanya, memahami tulisannya, dan bisa menceritakan isinya karena menghormatinya. Ibaratnya, walau sama-sama punya banyak, mereka itu pelaku poligami dalam arti denotatif. Saya termasuk yang pertama. (penganut anti-poligami, maafkan ibarat saya ini 🤣).

Perlawanan Penguasa Madura atas Hegemoni Jawa
Perlawanan Penguasa Madura atas Hegemoni Jawa
Bagi orang awam seperti saya, berburu buku itu sebuah proses yang kadang cukup konyol tapi menghibur. Seperti saat kali pertama saya macak jadi seorang pemburu buku. Ketika itu buku yang saya cari tidak tidak saya temukan, saya ditawari Max Havelaar oleh pelapaknya. Saya memang pernah membacanya, tapi baru halaman-halaman awal sudah menyerah. Alasannya? Saya sampaikan ke pelapak itu saat menolaknya, bahwa bagi saya bukunya tidak cantik karena saya kesulitan membacanya (melihat rona mukanya saya yakin beliau kecewa pada saya saat mendengar alasan saya 😆). Setelah bergaul dengan teman-teman pecinta buku, saya baru tahu mereka mencari novel itu, sehingga kemudian saya ikut mencarinya. Begitu pula saat teman lain sedang mencari buku targetnya, saya sering tidak mengerti mengapa mereka mencarinya. Tapi setelah suatu saat saya membaca sebuah tulisan yang ternyata merujuk buku itu, kemudian mencarinya, barulah saya ingat buku itu pernah dicari teman-teman saya tersebut. Ada semacam rasa iri ingin punya buku cantik yang dipunya orang lain, untuk seorang penggundik buku seperti saya. 👹📚

Lain lagi yang satu ini. Mereka bersedia berbagi kelebihan bukunya, atau tukar-menukar buku saling melengkapi saat teman lain membutuhkan, atau belum memiliki. Bahkan, mereka bersedia melepas koleksinya untuk melengkapi koleksi temannya yang kurang. Tidak sekadar memburu dan mencintai, mereka jelas menjiwai buku. Mereka mencita-citakan titik-titik di berbagai kota di Indonesia yang memiliki koleksi buku bagus untuk dapat dibaca. Semakin banyak titik itu, semakin lega perasaannya. Saya menyebutnya para pecinta literasi. Entah istilah tersebut tepat atau nggak, tapi saya tahu salah satu orangnya, Pak Ibnu Raharjo. 🙇
Jika menurut Anda bermanfaat, silakan berbagi tulisan ini ke teman Anda dengan tombol Google+, Twitter, atau Facebook di bawah ini.
Comments
0 Comments
0 Comments

Berikan Komentar

Post a Comment

Translate This Page into