Home » , , , » Mengapa Agama Selain Agama Anda Sudah Pasti Salah?

Mengapa Agama Selain Agama Anda Sudah Pasti Salah?

Diceritakan oleh Gugun Ekalaya pada Monday, April 2, 2018 | 2:15 AM

Otak manusia itu secara biologis bekerja dengan cara yang sama. Mengalami kelainan pun dengan cara yang sama. Tak ada disain otak manusia satu berbeda dengan yang lain. Orang Arab otaknya sama dengan orang Cina. Tapi kita ngomongin otak sebagai organ...bukan fungsi.

Sebagai fungsi, otak tiap orang bekerja dengan cara berbeda. Sebagian terpengaruh oleh biologis otaknya, sebagian yang lain melalui proses yang rumit melewati pengalaman-pengalaman dan pembelajaran.

Ketika bicara otak sebagai fungsi maka kita akan bersua dengan filsafat. Filsafat kelak melahirkan ilmu dan buahnya adalah produk teknologi, seni, sastra dan kebudayaan.  Tapi sebelum filsafat, orang sudah duluan mengenal agama.

Agama dan logika

Agama maksud saya dalam definisi seluas-luasnya, tidak dalam paradigma agama Abrahamik atau Semitik saja. Orang nyembah pohon, punya ritual pengorbanan makhluk hidup, percaya dewa-dewa dll itu kita sebut sebagai agama. Agama adalah apapun yang diimani tanpa harus mempertanyakannya. Berbeda dengan filsafat yang selalu berakar dari kritisisme.

Terus apakah lantas berpikir itu dilarang agama?

Jelas tidak. Pada kenyataannya banyak filsuf yang punya latar belakang agama yang kuat. Tak hanya dari kalangan Kristen, ada juga Islam, Buddha, Hindu dll. Agama tak menghalangi anda berfilsafat tapi kalopun nggak berfilsafat alias mikir maka itu tidak apa-apa. Beda sekali dengan filsafat yang mana tiap premis harus dibongkar hingga ke intinya. Filsafat adalah metode berpikir dan bertanya radikal, sedangkan agama adalah lembaga untuk menyandarkan kepercayaan.

Dengan demikian agama dan filsafat sebenarnya punya fungsi intrinsik jauh berbeda. Intrinsik maksud saya adalah yang berhubungan dengan otak dan hati. Filsafat adalah soal memenuhi hasrat nalar, menjawab kehausan intelektual. Sedangkan agama adalah wahana penyamanan batiniah, spiritual. Tidak masalah jika tidak berpikir, selama hati nyaman (atau damai).

Nyaman dalam hal apa? 

yakni kenyamanan batin menghadapi misteri kehidupan dan kematian, Tidak perlu pembuktian logis atau kritis. Asalkan anda percaya dan nyaman, maka itulah fungsi agama.

Mungkin banyak yang protes, "Salah! Agama itu justru nyuruh orang berpikir!"

Ya, di Al Quran (kitab suci agama saya) banyak ayat yang menyuruh manusia bertafakur. Tapi secara realita, kalo muslim banyak berpikir kritis, dia akan dihujat sebagai liberal, sesat, murtad. Tahu kah anda, hal yang paling sering dikatakan bagi para orang berpikir adalah, "Jangan mendewa-dewakan pikiran! Pikiran ada batasnya!"

Saya jamin orang yang berkata demikian tidak pernah menguji batas pikirannya.

Menyandingkan agama dengan berpikir itu konsekuensinya tidak gampang. Anda akan menemukan paradoks, menemukan pertanyaan yang sukar dijawab, kalopun  dijawab hanya dalam rangka apologetik. Begitu anda menemukan titik temu, anda sudah berada di level yang sama sekali beda dengan orang beragama kebanyakan. Tak heran para sufi (and yeah mereka juga dikatain sesat) membagi level pemahaman manusia itu ke dalam beberapa maqam.

Karena tujuan utamanya adalah nyaman, maka tak heran kalo jadi cenderung males mikir. Meski ada bertaburan ayat menyuruh manusia iqra, tafakur, yang paling keinget ya ayat halal haram hehehe. Yang diurusi adalah hal-hal kecil karena mudah dan gampang dipamerkan. Lebih mudah pamer jidat gosong dan celana cingkrang daripada menunjukkan integritas sosial. Jangan heran, bisnis bau agama laku keras dan meski udah ketipu jutaan orang pun tetep laku keras.

Nah, prioritas mempertahankan rasa nyaman ini ujungnya adalah menganggap agamanya paling benar. Eksklusivitas. Dalam kerangka beragama beginian, maka peribahasa "Kutu di seberang lautan tampak tapi gajah di pelupuk mata nggak keliatan." Contohnya?

Gemar menghujat "asing" dan "aseng" tapi halamannya sendiri belum bersih. Masih banyak membela penipu yang merugikan jamaah hingga trilyunan. Apologinya, "Tuh si aseng bawa kabur trilyunan juga didiemin (entah aseng yang dimaksud siapa...)"
Mengeluh Banjir, karya Dody
Mengeluh Banjir, karya Dody dalam buku komik kompilasi Negara 1/2 Gila.
Koar-koar soal moralitas, nggak taunya gambar perempuan yang foldernya disetting hidden di harddisknya tidak menutup aurat (apa ya ini hahaha) udah gitu lupa kekirim di grup Whatsapp (walahhh)

Eksklusivitas membuat "Kutu di seberang lautan tampak, gajah di pelupuk mata nggak keliatan." 

Akan banyak sekali contoh hipokrit yang bisa anda temukan bahkan di lingkaran terdekat anda.

Dengan paradigma yang masih sama, yakni mencari kenyamanan ini, maka kita bisa melihat keanehan ajaran agama lain, tapi tidak ajaran agama sendiri.

====

Sebenarnya saya tidak bermasalah dengan keyakinan apapun. Toh saya dalam beberapa hal juga mempercayai hal-hal yang tidak benar-benar logis. Namun saya bermasalah banget ketika itu dipaksakan ke ruang publik.

Ketika ada perempuan bercadar ditolak sebuah kampus, beramai-ramai kampus itu dihujat. Saya tidak ikut menghujat, tapi saya juga tak merasa perlu membela pendirian kampus itu. Sikap saya, cadar tak perlu dipernasalahkan dan samasekali bukan merupakan indikator radikalisme.

Ada pula perempuan bercadar yang lain, menyelamatkan anjing liar, dan ia jadi sasaran hujatan "saudara-saudaranya yang merasa lebih suci".

Di sini, agamamu, agama saya, agama kita akan menjadi selalu paling benar.

Agama tidak pernah jadi masalah bagi siapapun, bahkan untuk atheis akut sekalipun. Namun agama akan menjadi ruang yang berbahaya dan merusak bahkan bagi para pemeluknya sendiri ketika "otak" dan apalagi hati dikesampingkan.

Desy Marlina Amin, muslimah penyelamat anjing ini pada 2016 pernah merasakan bully yang serupa dengan Hesty Sutrisno.
Sementara orang-orang yang "lebih suci dan pasti masuk surga" itu nyinyir soal baju kakak bercadar penyelamat anjing liar ini, di belahan bumi lain orang-orang sibuk mendalami artificial intellegence technology. Orang udah ngising di bulan, yang sini lagi ribut soal debu buat nyuci liur anjing.

=====

Agama tidak pernah bisa dikritik karena memang tak ada fitur untuk itu. Ketika saya sudah memahami bagaimana agama berfungsi, maka saya pun meninggalkan kritisisme belasan tahun yang saya jalani. Akhirnya saya pun bisa mendamaikan filsafat dan agama. Jadi tak usah heran kenapa kok saya masih juga Islam padahal otak saya sudah "kotor" oleh filsafat dan ajaran agama beraneka ragam.

Saya sampai di tahap yang mana saya menganggap Islam itu benar namun anda yang Hindu pun tak bermasalah dengan kebenaran agama saya. Saya paham meletakkan kata kebenaran (tanpa tanda petik) dengan "kebenaran".
Being a good person does not depend on your religion or status in life, your race or skin color, political views or culture. It depends on how good you treat others. 
Ketika melihat orang yang pola beragamanya masih dalam paradigma "agama saya pasti benar dan agama anda pasti salah", saya bisa memahami kenapa demikian. Pemahaman benar dan salah itu berjenjang. Ada maqamnya.

Saya menjalani kegelisahan bertahun-tahun dan nyaris gila. Pemahaman saya tak didapat dengan cara yang mudah.

Lha trus kalo gitu.... Bagaimana saya bisa berharap bahwa.... - orang yang masih percaya angka ayat Al Quran diutak-atik buat menggambarkan sifat seseorang - bisa mendadak cerdas dalam semalam?

Bagaimana bisa berharap bahwa - orang yang tanpa kasal percaya omongan penceramah modal hapalan - mendadak mau studi literatur dan menyelami dialektika filsafat Barat-Timur dalam semalam?

Bagaimana saya bisa berharap bahwa - orang yang menghujat sarjana yang betul-betul mendalami agama - mendadak bijak dan bertoleransi terhadap keyakinan lain?

Ndak mungkin kan? Ndak realistis kan?

Orang-orang semacam itu akan terus ada. Karena menjadi bijak beragama itu perlu proses batiniah yang panjang dan menyakitkan, sedangkan asal percaya agama itu nggak perlu macem-macem... anggap aja kita paling berhak ama surga, yang lain masuk neraka. Beres.

Yang paling bikin saya galau sih ya si Dajjal.
Gampang banget dah kerjaan Si Dajjal.

Kita ini capek-capek bikin artikel penyadaran soal beragama, cara berfilsafat, cara belajar sejarah, cara menangkal hoax, ngajakin orang hidup rukun. Eh yang sepakat dikit. Lha si Dajjal tinggal bikin isu agama, dapet banyak pengikut dah. Menang dia hahaha. Yang lebih ajaib, para pengikutnya juga gak sadar itu kerjaan dajjal. Nyelametin anjing dibilang kerjaan dajjal, baca Al Quran pake langgam non Arab dibilang dajjal, pria jenggot jidat gosong nilep duit...ah cuma khilaf.

Ah masa bodo dah...dasar kentut Darth Vader.

Tau gak kenapa Darth Vader napasnya berat ngos-ngosan? Itu karena kentut dia gak bisa keluar dari kostumnya. dari pantat kehirup lewat masker.

Sama kayak kalo kita beragama, tapi malas membersihkan "halaman" rumah kita dari "kentut-kentut penista agama sendiri". Betapa "kentutized" saya ketika ada penipu seagama malah dibela secara moral. Bukannya itu penistaan agama yang sebenarnya?

(2 April jam rolas beni pas)
Jika menurut Anda bermanfaat, silakan berbagi tulisan ini ke teman Anda dengan tombol Google+, Twitter, atau Facebook di bawah ini.
Comments
0 Comments
0 Comments

Berikan Komentar

Post a Comment

Translate This Page into