Home » , , , » Apakah Kitab Suci Itu Fiksi (Analisis Wacana Rocky Gerung)

Apakah Kitab Suci Itu Fiksi (Analisis Wacana Rocky Gerung)

Diceritakan oleh Gugun Ekalaya pada Sunday, April 15, 2018 | 3:26 PM

Beginilah ujian sebenarnya untuk kedewasaan sebuah bangsa dan negara. Sama halnya soal Ahok kemarin yang sebenarnya cuma ranah pemahaman bahasa, ujaran Rocky Gerung semestinya diselesaikan dalam ranah akademik bukan main penjara. Sebagaimana saya tak menyetujui pemenjaraan Ahok demikian pula soal pelaporan Rocky ke polisi.

Bagaimanapun juga, kesinambungan generasi intelektual kita sudah terpotong saat era 65an, sekaranglah saat memperbaiki itu semua. Salah satu caranya dengan jalan dewasa berwacana.


Definisi dan Lawan Kata FIKSI MENURUT SAYA

Sepemahaman saya, fiksi itu rekaan. Lawannya adalah non-fiksi. Baik fiksi maupun non-fiksi adalah dalam konteks karya intelektual baik berbentuk tulis, gambar maupun audio visual.

Apakah kitab suci itu fiksi?

Sebelum anda jawab, perlu diketahui bahwa pertanyaan ini berada di banyak domain keilmuan. Antara lain yakni teologi, filsafat dan kesusasteraan.

Fiksi mempersyaratkan adanya author manusia/human sebagai pemilik gagasan.

Dengan demikian maka kitab suci tidak termasuk karya fiksi. Sesimpel itu.

Namun jika anda adalah seorang atheis atau agnostik yg mau menggugat keabsahan itu, maka itu masuk domain filsafat, investigasi teks dan mungkin akan melibatkan banyak bidang ilmiah lain. Pembahasan soal itu ada wilayahnya sendiri yg tak bisa dicampuradukkan dalam diskusi awam sehari-hari. Anda tak bisa membahas suatu yang kompleks hanya bermodal satu dua potong pengetahuan.
Ketika Hawking bilang "Heaven is fairy story for people affraid of the dark.", ia bicara dalam ranah filsafat. ya udah tinggal debat aja pake kaidah filsafat juga :D

Fiksi vs Fiktif

Fiktif adalah kata sifat, yakni bermakna apa-apa yang bersifat rekaan. Fiksi pun juga termasuk dalam realitas, yakni realitas fiksi.

Jadi kalo mo ngobrol soal fiksi, biasanya perlu pengetahuan sastra atau media. Kalo bicara kitab suci ya paham ilmu agama. Nah kalo bicara realita ya perlu secangkir kopi.

"Fiksi mempersyaratkan adanya author manusia/human sebagai pemilik gagasan.
Dengan demikian maka kitab suci tidak termasuk karya fiksi. Sesimpel itu."
jadi piye mas? kitab suci di gagas pertama kali oleh tumbuhan ?

Coba dicermati lagi pertanyaan panjenengan. Syarat sesuatu disebut fiksi adalah bahwa pemilik gagasannya haruslah manusia. Kitab suci, diimani oleh penganutnya, gagasannya adalah dari Tuhan. Pada tataran ini maka dianggap bahwa kitab suci adalah non-fiksi. kalau panjenengan mau menggugat ini, maka domainnya adalah diskusi filsafat, sebagaimana yang saya tulis.

Nun sewu dereng dhong,... batasannya di mananya kang ? antara diskusi filsafat dan non filsafat ?

Bisa dipahami mulai dari premis "pemilik gagasan" sebuah tulisan. Novel dan kitab suci, secara fisik keduanya sama, berupa buku, ada tulisannya. Namun substansinya beda, novel itu pemilik gagasannya adalah manusia, sedangkan kitab suci pemilik gagasannya adalahTuhan. Ini non filsafat. Makanya kitab suci kalau di rak buku masuknya ke non fiksi. Kalau mau dibahas secara filsafat maka musti mempertanyakan dulu soal keTuhanan. Apakah Tuhan itu ada, apakah Tuhan berkehendak, apakah Tuhan berkehendak secara spesifik dan sebagainya. Batasnya pada pendalaman pertanyaan dan penjelasannya.

ngapunten sewu kang, jane ra pengen gugat, mung diskusi mawon sing jenak ....  aku ra paham kitab suci kang, nopo malih yen senggolan masalah keyakinan kie medeni..... yen ngoten dibatasi dalam ranah filsafat mawon nggeh pertanyaan kulo teng inggil wau ? nalikane gagasan disampaikan, maka terbentuklah tembung penggagas a.k.a penyampai gagasan, sarujuk ?

Leres. Soal keyakinan punika menawi teng mriki ncen mboten saged bebas kados nagari luar kang pun rampung perkawis debat iman VS rasionalitas. Tinimbang mangke kathah gasrukan kaliyan tiyang awam, luwih becik perkawis filsafat niku dibahas ing kalangan terbatas mawon, supados kita mboten ngladeni ingkang mboten perlu. Bab diskusi kala wau... "nalikane gagasan disampaikan, maka terbentuklah tembung penggagas a.k.a penyampai gagasan." Kirang sarujuk. Penggagas kaliyan penyampai gagasan punika benten. Penggagas punika ingkang gadhah lha penyampai punika saged tiyang sanes kang gadhah ketrampilan menyampaikan. Tuladhanipun...nulis, nggambar, ndamel video lan sanesipun. Ing konteks kitab suci, tuladhanipun kitab sucinipun tiyang Kristen, punika gagasan saking Ilahi hananging ingkang menyampaikan punika para Rasul Kristen. Nalika katulis dados kitab punika, pun wonten redaksional berdasar pribadi para rasulipun. Niki benten kaliyan Islam, kang dipercados gagasan saking Ilahi punika katulis sami persis kaliyan napa kang dipun wahyuken dening Gusti teng Kanjeng Nabi. Makaten miturut pendapat kula pribadi.
Jika menurut Anda bermanfaat, silakan berbagi tulisan ini ke teman Anda dengan tombol Google+, Twitter, atau Facebook di bawah ini.
Comments
0 Comments
0 Comments

Berikan Komentar

Post a Comment

Translate This Page into