Home » , , » Bagaimana Menaklukkan Rasa Sakit Batin? (Untuk Yang Sedang Mengalami Depresi)

Bagaimana Menaklukkan Rasa Sakit Batin? (Untuk Yang Sedang Mengalami Depresi)

Diceritakan oleh Gugun Ekalaya pada Friday, December 22, 2017 | 7:00 AM

Rasa sakit itu tak bisa ditaklukkan. Menaklukkan bagaimana? Kecuali kelainan mental, nggak ada orang sedang sedih mendadak ketawa saat diajak guyon. Orang yang ketawa saat sedih itu lebih menyedihkan dari kesedihannya sendiri. Akan tetapi rasa sakit tak bisa dibiarkan terus menggerogoti kan? Kecuali mau jadi masokhis.

Terus apa yang bisa dilakukan jika mengalami sakit batin?

Tahap awal selalu paling susah. Jawaban gampangnya adalah mendekatkan diri pada-Nya. It works jika anda adalah tipe spiritual sederhana yang tak melakukan pencarian-pencarian mendalam. Tipe macam ini lebih mudah menyembuhkannya. Pada frekuensi kegelisahannya, Tuhan adalah jawaban paling praktis.

Agak susah menangani orang yang skeptis, yang punya kegelisahan mendalam yang lebih. Orang macam ini kadang juga rawan mengidap anxiety disorder. Untuk tipe spiritual macam ini yang diperlukan lebih banyak katarsis. Biarkan ada penyeimbang untuk kegelisahannya. Mungkin melakukan hobi, travelling, atau cukup dengan musik tertentu.

Depresi, Bagaimana Menaklukkan Rasa Sakit Batin?
Depresi, Bagaimana Menaklukkan Rasa Sakit Batin?
Di tahap awal, yang terjadi adalah adaptasi terhadap rasa sakit. Biasanya kan pada masa ini kita akan teringat dengan penyebab rasa sakit itu. Kita terus mengingat-ingat kejadian, merasakan koneksinya dengan rasa sakit. Ini adalah masa-masa masokhis....ada setitik "kenikmatan" daam rasa sakit. Atau ketidakmauan untuk berpindah dari rasa sakit.

Daripada masokhis (yang kalo kebablasan malah merusak) maka yang lebih baik mungkin adalah beradaptasi dengan rasa sakit. Biarkan rasa sakit itu terasa. Terimalah. Penerimaan itu seringkali terekspresikan dengan air mata, diam berhari-hari, ketidakmauan berkomunikasi dengan orang lain dll. Di fase ini biasanya susah untuk menjadi bijak. Setidaknya itu yang saya alami. Saat saya sakit, saya menjadi tidak bijak.

Penerimaan rasa sakit akan membuat keterikatan dengan rasa itu pudar. Ada semacam rasa "Oh cuma gini to rasanya..." setelah ini biasanya kita bisa lebih waras. Bisa tersenyum. Bisa memandang semuanya dengan normal lagi.

Saat ini barulah nasehat-nasehat bisa didengarkan. Tapi jauhilah orang yang tak punya rasa empati. Orang yang menilai bahwa semua orang seunggul dirinya, orang yang mencemooh kelemahan orang lain. Yang semacam ini adalah racun. Mereka tak tulus ingin membantu. Mereka hanya ingin terlihat lebih bijak dan bernasib beruntung.

Anda lebih memerlukan orang yang mau mendengar dan mendoakan. Bukan malah menasehati. Karena nasehat yang ia bicarakan tak selalu berguna buat dirinya ketika ia mengalami masalah serupa.

Tapi apakah nasehat itu tak perlu didengarkan?

Perlu tapi ada saatnya.

Ketika anda sudah lepas dari masa penerimaan rasa sakit, anda masuk ke fase kontemplasi. Anda bisa memetakan mana yang kurang pas, mana yang bisa dikontrol dan mana yang tidak. Kita tak selalu bisa mengontrol kehadiran orang yang akan membahagiakan, menguntungkan atau malah mengkhianati dan mencelakakan kita. Yang jelas bisa dikontrol cuma reaksi kita.

Saat mengalami kesulitan mengendalikan batin, cobalah mengendalikan tubuh. Jaga cara makan dan bergerak. Saat sedih, saya melakukan olah tubuh dan meditasi. Tak berdoa dan tak minta nasehat. Ketika saya pulih, barulah saya berdoa dan mulai memilah-milah nasehat.

Pada tahap ketika batin dan badan sudah terbebas dari beban, jika kita menengok masa lalu bisa tersenyum dan bahkan ketawa...itulah yang bisa kita namakan dengan menaklukkan sakit batin.

The pain maybe is still over there, in a little space...not enough to hurt you anymore.

If you are in this phase so congratulation :) buy yourself a nice gift. A watch, toys, snack, travelling or do something fun. Me.... I bought a dinosaur toy 😊
Jika menurut Anda bermanfaat, silakan berbagi tulisan ini ke teman Anda dengan tombol Google+, Twitter, atau Facebook di bawah ini.
Comments
0 Comments
0 Comments

Berikan Komentar

Post a Comment

Translate This Page into