Home » , , , » Gebyah Uyah dan Para Pembawa Bensin

Gebyah Uyah dan Para Pembawa Bensin

Diceritakan oleh Gugun Ekalaya pada Thursday, May 25, 2017 | 5:20 PM

Gebyah uyah itu maksudnya menggeneralisir yakni secara gegabah menilai satu kelompok dengan menyamaratakan semuanya. Contohnya:
Jenggot = Wahabi, Pro-Ahok = Liberal, Salafi = ISIS, dll.

Menurut saya, dalam mengaategorikan orang perlu dipilah antara:
  • Ideologi: Apa yang ia yakini dalam hati
  • Sikap: Sikap yang ia tunjukkan atau ekspresikan terhadap suatu hal
  • Tindakan: Perbuatan yang nyata dilakukan sehubungan dengan ideologi atau sikap
Menurut saya tak selamanya ketiga hal itu saling sinkron. Orang yang berideologi fasis semacam salaf garis keras, secara sikap belum tentu juga sekeras ideologinya. Tindakan juga beda lagi. Jangankan dalam hal pornografi, penganut ideologi juga ada hipokrisinya.

Liberal sama dengan PKI
Another gebyah uyah (foto: BBC Indonesia)
Saya sepakat bahwa tindakan bermula dari pikiran tapi ada semacam "sekat" antara berpikir dan berbuat. Jangankan untuk hal berat semacam ideologi, dalam hal simpel aja orang suka susah sehati sekata. Misal kita sepakat bahwa jaga kebersihan adalah gagasan baik, tapi seberapa mau orang mengimplementasikan dalam tindakan? Buktinya saya masih banyak melihat kaum terpelajar pun nyampahnya sembarangan kok.

Labirin kepribadian manusia memang kompleks. Saya selalu berupaya menghargai tiap gagasan atau ideologi, berupaya tak mencampuradukkannya secara ad hominem dengan tuduhan yang mengarah pada demonisasi .... Jancuk ... aku kok ngomonge dadi ribet ngene ....

Maksudnya gini lho, Om ... jangan buru-buru memvonis apa yang berseberangan secara ideologis dengan kita adalah jahat... making them a demon. Misal. Seorang pro ISIS sekalipun, tak serta merta pro pada tindakan atrocity-nya. Mungkin dia seorang "fans fasisme reliji", namun bisa jadi ia masih (cukup waras) menolak kekerasan. Orang macam ini tak mau terima paketan. Mau semangat ideologisnya namun tidak pada implementasinya. Khilafah ala ISIS yes, atrocity no. Mungkin anda ketawa geli hahaha .... Banyak tu... yang pro sama ISIS tapi mereka juga gak mau ikutan perang menyembelih orang. Bahkan mungkin masih selera ama anime atau sepakbola. Di antara penganut ideologis konservatif atau puritan itu juga banyak yang nyantai, enak diajak ngobrol nggak panasan. Jangan pikir cakap nalar hanya monopoli yang "liberal" aja ya, hahaha.

Jadi menurut saya, batasi gerak ideologisnya, bukan orangnya. Owww how can it be? Bukannya ideologi tak bisa dibatasi. Badan bisa dipenjara tapi bukankah ideologi bisa merayap lewat pori-pori nalar yang bersimpati padanya?

Ideologi ... TAK BISA DIBATASI. Tapi gerakan ideologis bisa. Dan membatasi gerakan ideologis bukannya dengan pelarangan membabibuta. Dialog adalah cara paling masuk akal untuk "membatasi" ideologi. Karena ideologi yang fasis adalah ideologi yang tidak berdialog. Yeaaa saya memang utopis ya. Tapi lihat aja.

Anda gak bisa mengkonvert ideologi orang dengan cuma debat, Bung!

Ideologi itu rembesan dari kondisi nalar, pengalaman batin, preferensi dan wawasan. Makanya edukasi adalah satu-satunya obat mujarab untuk masalah konflik ideologi. Rumangsa gue sih ....

Susah? Berat? Lama dampaknya?

Well ... Kepribadian manusia agar bisa pada tahap -mau berbagi ruang- pun perlu evolusi, Bro.
Mumet nih ingsun.

===

Para Pembawa Bensin (Pasca-Teror Bom Kampung Melayu)

Sedikit revisi pemikiran terdahulu soal "gebyah uyah"

Tragedi bom kemarin, dikorelasikan dengan upaya pembungkaman berpikir kritis yang diwakili seorang remaja baru lulus SMA, membuat pemikiran saya sedikit berubah. Pada dasarnya saya tetap menentang "gebyah uyah", tetapi orang-orang yang masuk "fundamental nice people" (yakni yang ideologi mereka tak berlanjut pada tindakan), ibaratnya adalah "para pembawa bensin". Orang-orang ini jangan dimusuhi, selama bensin yang mereka bawa hanya dikonsumsi di kamar mereka sendiri.

Ketika ada anak kecil main bensin, diciprat-cipratin, diendus-endus, disiramin seenaknya di kayu-kayu rumah apa tindakan kita?

Memang ... Bensin tak bisa membakar ... selama tak ketemu api. Kita tak bisa memusnahkan semua bensin. Kita cuma bisa menaruhnya dalam wadah rapat, menjauhkannya dari api. Tapi bagaimana jika api tiba-tiba muncul? Saat semua terbakar, orang cuma bisa mencari siapa yang salah.

Ideologi bensin ini banyak diidap orang. Kita tak bisa memusnahkannya. Ketika kebakaran terjadi, mereka menyalahkan "wadah". " Oh bensinnya nggak ditutup rapat. Oh bensinnya nggak boleh dipegang anak kecil" dst... Tak sadar bahwa mereka berpotensi membawa bencana juga.

Turut berduka untuk para korban "bensin meledak" di Kampung Melayu dan Marawi Filipina.
Jika menurut Anda bermanfaat, silakan berbagi tulisan ini ke teman Anda dengan tombol Google+, Twitter, atau Facebook di bawah ini.
Comments
0 Comments
0 Comments

Berikan Komentar

Post a Comment

Translate This Page into