Home » , , » Mencela Bunuh Diri Live di Medsos? Mungkin Hidupmu Selalu Bahagia

Mencela Bunuh Diri Live di Medsos? Mungkin Hidupmu Selalu Bahagia

Diceritakan oleh Gugun Ekalaya pada Sunday, March 19, 2017 | 1:53 PM

Ketika kamu kaya, kamu akan menertawakan orang miskin
Ketika kamu dicintai, kamu menertawakan orang patah hati
Ketika kamu pintar, kamu menertawakan orang bodoh
Ketika kamu sehat, kamu menertawakan orang sakit


Hal semacam ini sering kalian jumpai, bukan? 

Kita akan menganggap remeh, lucu, aneh, konyol atas apa-apa yang kita tak pernah membayangkan akan mengalaminya. Kita mengukur semua orang dengan "kenormalan" yang kita punya.

Orang bunuh diri sambil menayangkannya secara live di media sosial memang sakit. Memang tak waras. Tapi yang mencelanya saya yakin belum pernah mendalami depresi. Hidupnya mungkin selalu bahagia. Selalu berkecukupan. Kebetulan sampai detik ini tak ada yang pernah mengkhianati kepercayaannya. Anak-anaknya mungkin lagi lucu-lucunya. Sementara kisah seorang suami yang ditinggalkan istri jadi bahan ketawaan. Dan mungkin ini cara dia "mensyukuri" kehidupan yang beruntung ... yakni menertawakan kesialan orang lain.

Dulu saya pun pernah menertawakan orang depresi. Ada seorang bapak yang terus-menerus mengajak ngobrol saya. Saya diikuti dari toko hingga ke kost saya. Tentu dia sebelumnya mohon izin dulu. Makin lama makin aneh. Dan terungkaplah bahwa ia adalah seorang yang kesepian sejak isterinya meninggal karena kecelakaan. Ada juga pemuda yang tak kunjung dapat pekerjaan. Setiap orang yang ia temui jadi tempat mengeluh, sampai tak pandang keadaan. Ada lagi kisah sahabat lama yang harus menjalani pengobatan bertahun-tahun.

depresi berat
Orang bunuh diri sambil menayangkannya secara live di medsos memang sakit, tapi yang mencelanya saya yakin belum pernah mendalami depresi. (foto ilustrasi: Peter Griffin)
Dulu semua itu bagi saya menjadi bahan gosip. Tentunya saat ngobrol dengan orang-orang yang "sehat". Dan dulu saya selalu sok menasehati, bahwa jika begini maka harusnya begitu bla bla bla .... Saya mencoba menawari semua orang yang sakit dengan "obat" yang sama.

Ternyata jiwa manusia tak pernah seragam. Sekuat-kuatnya orang, kadang tak terduga titik rapuhnya. Saat anda sehat, kemungkinan anda takkan baca sampai paragraf ini. Ketika anda bahagia, anda tak mau merusak diri dengan membaca tulisan "sampah".

Saya telah melewati masa-masa depresi. Saya tahu ternyata tak semudah itu menjadi bijak, saat diri serasa diinjak-injak. Saya belajar untuk tidak meremehkan.

Jika anda masih membaca sampai paragraf ini, dan jika anda merasa sedang depresi ..., anda nggak sendirian. Bahkan ada yang lebih buruk keadaannya. Saat seperti ini anda akan tahu makna sesungguhnya dari sahabat.

Dan anda akan mulai mengkategorikan orang-orang yang anda tahu sebagai berikut:

1. Keluarga
2. Sahabat
3. Kenalan
4. Relasi
5. Musuh

Anda akan aman dengan orang nomor 1 dan 2. Anda tak perlu berharap banyak pada nomor 3 dan 4. Dan anda tak boleh mengurusi nomor 5. Semoga waktu mempercepat proses pemulihan anda yang depresi. 

Kalau saya mengatasi depresi dengan terapi dan hobby. Tentu dengan cara saya sendiri. Orang-orang yang mengukur anda sama belaka dengan cara mereka mengukur orang lain, bukan yang cocok untuk anda dengarkan. Mereka tidak paham penderitaan anda. Tinggalkan. Dekatlah dengan orang-orang yang mau memahami anda. Meski bukan berarti anda bisa seenaknya memperlakukan mereka semata sebagai tempat sampah.

You are not alone. Anda yang tengah depresi semoga cepat pulih. Sekali anda melewati semua ini, anda akan lebih bersemangat daripada sebelumnya. Selamat malam, selamat pagi, selamat sore.
Jika menurut Anda bermanfaat, silakan berbagi tulisan ini ke teman Anda dengan tombol Google+, Twitter, atau Facebook di bawah ini.
Comments
0 Comments
0 Comments

Berikan Komentar

Post a Comment

Translate This Page into