Home » , » Membakar Begal, Manifestasi Energi Primitif Bangsa

Membakar Begal, Manifestasi Energi Primitif Bangsa

Diceritakan oleh Gugun Ekalaya pada Wednesday, March 4, 2015 | 10:11 AM

Membakar Begal: Manifestasi Energi Primitif Bangsa - Tentang bakar begal itu saya tidak memahaminya dari kacamata norma sosial maupun nilai-nilai keluhuran budi perilaku, melainkan dari sudut pandang holistik saya tentang konsep "energi" :) (cieee ndasku amoh ....) belum nemu istilah yang lebih spesifik jadi saya pinjam istilah umum ... energi.

Energi yang tertahan dan tidak termanifestasikan, akan mencari jalan sebanding dengan besarnya upaya menahannya. (catet tuh! ...cieee). Sudah berapa lama "energi" primitif dalam diri bangsa ini tidak termanifestasikan sehingga menjelma menjadi tindakan yang terkesan barbar dalam peradaban postmodern?

Manifestasi amarah Kumbakarna
Energi kemarahan Kumbakarna termanifestasikan (karya: Firnadi)
Kita dicekoki dengan mitos sebagai bangsa yang menjunjung kesantunan, keramahan, kealusan blah blah blah ..., tapi di lapangan? Kejahatan kerah putih kita maafkan, kejahatan kampung insidental kita sikapi secara ganas. Tapi kalo dipikir dan dirasakan secara primitif ... ncen luwih kroso ngajar begal ngiahahahaha.... Sementara itu tak sadar kesempatan hidup kita yang sulit sebenarnya karena dikeroposi ama begal-begal cerdas di ruang sana. Mereka masih menikmati AC di kantor-kantor, hotel dan kafe. Ya gitu lah...karena dampak yang mereka timbulkan itu lebih sistemik alias nggak keroso secara langsung.

Energi kita ditekan terus dalam mitos-mitos kesantunan sementara jika terjadi pelanggaran, rasa adil kita masih belum dipenuhi. Nggak salah juga ada yang bilang begal masuk penjara itu justru untuk bermutasi jadi lebih ultra begal lagi.

Konon kalo di negara maju, energi primal tadi itu dikelola oleh institusi dalam wujud tanggungjawab profesional. Kriminal diadili, ada yang harus kerja sosial buat penebusan, ada hak-hak yang dilindungi tanpa membayar di luar pajak. Yaaa bukan berarti nggak ada penyimpangan loh...namanya juga manungsa kan...

Setidaknya masyarakat terayomi...energi mereka tidak akan mudah dipancing untuk mengamuk. Nah kan biasanya hal-hal gini merambat berbarengan dengan isu-isu tertentu. Abis ini jangan kaget kalo energinya mrambat ke beberapa tempat, lalu berhenti dengan sendiri....kayak monster yang keluar musiman. So guys...ini bukan soal benar dan salah :D this is about the energy! Kuwi rumangsaku dhewe loh yo.

Paling tidak untuk perbandingan enteng-entengan....Coba tanyakan pada Senpai saya Jack Idrus, soal peristiwa pengejaran maling celana dalam di Jepang kemarin. Tidak ada bakar-bakaran kan? Padahal celana dalam adalah kehormatan hakiki. Bayangin aja naik motor tanpa celana dalam....dan tanpa SIM. (Ckkk ngawur wae mbandingke begal motor karo begal sempak...rumangsanya itu loh)

Once more kaping pisan maning... bukan soal salah dan benar. Ini siklus energi.

Baca juga: Begal Bakar, Antara yang Sadis dan yang Apologetis
 
Jika menurut Anda bermanfaat, silakan berbagi tulisan ini ke teman Anda dengan tombol Google+, Twitter, atau Facebook di bawah ini.
Comments
0 Comments
0 Comments

Berikan Komentar

Post a Comment

Translate This Page into