Home » , » Idealisme: Patokan yang Dianggap Sempurna

Idealisme: Patokan yang Dianggap Sempurna

Diceritakan oleh Unknown pada Thursday, December 18, 2008 | 11:47 AM

Dulu saya bayangkan Amerika Serikat itu negara yang super power yang paling hebat dan tak bisa tergoyahkan oleh apapun. Namun hari ini, kita menjadi saksi kegoncangan perekonomiannya. Dulu, kukira demokrasi itu suatu sistem terbaik untuk menyelenggarakan suatu negara agar bisa adil, makmur, dan sejahtera. Namun, rasanya itu hanya menjadi sifat-sifat Utopia-nya Thomas More, atau paling baik puncak terbaiknya hanyalah satu kurun siklus negara-nya Polybius. Dulu sekali, jauh sebelum saya memikirkan kedua hal di atas, saya meyakini ada agama terbaik yang bisa menjadi panutan dan pembimbing ke arah yang ideal. Semakin saya pelajari sejarahnya, semua semakin dikaburkan oleh pembunuhan-pembunuhan mengerikan bahkan sejak dari jaman terdekat munculnya agama itu. Lalu manakah yang sempurna? Bukankah akhirnya kesempurnaan itu ditunjukkan oleh perilaku masing-masing individu? Yang menghormati orang lain, tidak pernah menyakiti, itulah sempurnanya perilaku.

Ada cerita pada suatu ketika, seorang teman saya memperoleh nilai C pada pelajaran Agama gara-gara pertanyaan tentang kesempurnaan sebuah agama. Kira-kira dia berpikir agama itu hanya sebuah cara untuk mencapai tujuan. Dan cara masing-masing orang berbeda. Sayang, guru tak mau tahu perspektif yang berbeda ini. Kasihan dia (Kami berdua menertawakan peristiwa itu). Tapi, saya tertawa sebenarnya bukan pada nilai C-nya itu. Tapi pada nalarnya berpikir teman saya tadi yang menurut saya masokis. Dia mempertahankan sesuatu dengan mempercayai bahwa untuk mencapai tujuan, bisa dilakukan dengan beberapa cara. Anehnya, dia sendiri sedang melupakan tujuannya saat itu. Tujuannya agar mendapatkan nilai A, tapi dia menafikkan kemungkinan mendapat nilai itu dengan mempertahankan hanya satu cara. Kalaulah memperoleh nilai A itu bukan tujuan utama, bukankah tujuan utama belajar (memperoleh pengetahuan hakiki) sudah dia peroleh sendiri dengan apa yang telah dia simpulkan! Jadi, tujuan sekunder: memperoleh nilai, adalah yang seharusnya dia raih. Tapi memang mungkin saja tujuan ideal yang dia pegang adalah meyakinkan pada semua bahwa gagasan yang dia yakini itu benar. Perkara nilai nomor sekian. Pantaslah dia mendapat nilai C.

Sialnya, hari ini saya kualat. Ketika dia telah lihai dengan urusan hubungan cara-tujuan ini, saya justru masih berkutat berlarut-larut dengan ketololan diri sendiri. Mempertahankan sesuatu yang telah saya dapat dengan resiko kehilangan tujuan yang lain. Dilema yang dialami teman saya pada waktu kuliah di atas, kini saya alami waktu bekerja, dan kami berdua kembali menertawakannya.

However, kami berdua tetap memperoleh yang sejati. Seperti dia bilang, niteni macem-macem rasa lan sasmita, dari situlah kita belajar.
Jika menurut Anda bermanfaat, silakan berbagi tulisan ini ke teman Anda dengan tombol Google+, Twitter, atau Facebook di bawah ini.
Comments
0 Comments
0 Comments

Berikan Komentar

Post a Comment

Translate This Page into